Kabut Pikiran

Pikiran bagaikan kabut yang menghilang jika tak diabadikan dalam kata

Surga Untuk Wanita

Dia Takkan pernah menjadi bidadari bagimu,

Jika kau tak lebih dahulu menjadi surga untuknya

Melacak Jejak Cinta #8

Sebelumnya baca dulu  #1 #2 #3 #4 #5 #6 #7

Episode Delapan
Menantikan Seseorang

8 Desember 2006
Aku dan Chandra baru selesai menonton sebuah film Hollywood. Film konyol tentang kehidupan keluarga di Amerika. Chandra mengajakku makan di fastfood dekat bioskop.
“Tahukah kamu? Sebetulnya duta-duta kebudayaan bukanlah para duta-duta besar yang berpesta semalam suntuk ataupun ratu-ratu kecantikan yang terlalu banyak senyum. Ada banyak duta kebudayaan yang tak kita sadari. Dari tangan-tangan merekalah kita bisa memahami kebudayaan asing, ataupun orang asing memahami kita. Mereka adalah para penulis dan penerjemah. Kebudayaan asing lebih cepat masuk dalam masyarakat atas campur tangan mereka. Merekalah jembatan penghubung dua bangsa.” Ujar Chandra.
Aku tak terlalu memikirkannya. Kuanggap itu ceracau Chandra yang biasanya, tak bermakna.
~^Baca Selengkapnya^~

Menunggu Bidadari

Berharap Memang Kamu yang Kutunggu

Melacak Jejak Cinta #7

Sebelumnya baca dulu  #1 #2 #3 #4 #5 #6

Episode Tujuh

Setelah Bencana

 

Si pria balik menatap anaknya yang melihat dengan pandangan ingin tahu. Api unggun memisahkan mereka berdua.

“Ayo, Ayah. Ceritakan lagi soal bumi sebelum bencana. Ceritakan soal mobil, pesawat, komputer.” Mata anaknya berbinar. Tak mungkin dia dapat menolak keingintahuan sang anak.

Kemudian si pria menceritakan kembali kisah yang sudah diulangnya berkali-kali pada sang anak yang tak pernah bosan.

“Dahulu kala di bumi ini ada ratusan negara berdiri. Beberapa diantaranya kuat, sementara banyak sisanya yang amat lemah sehingga harus banyak dibantu. Negara-negara kuat berlomba-lomba mengusai negara-negara lemah, baik secara halus maupun kasar. Mereka membuat alat-alat yang sangat canggih, yang katanya bisa memudahkan kehidupan. Beberapa diantaranya memang banyak membantu dalam peradaban manusia, beberapa yang lainnya disalahgunakan untuk menghancurkan. Semua itu berjalan terus menerus hingga akhirnya harus berakhir oleh sebuah bencana .”
~^Baca Selengkapnya^~

Cinta Bunda


Cerpen lama, gak terlalu bagus juga.

            Suara lengkingan roda kereta yang bergesekan dengan relnya memenuhi suasana siang di stasiun Gambir hari ini. Aku duduk di samping jendela pada salah satu gerbong.

Terdengar suara ketukan dari luar jendela tempat dudukku, namun hal itu tak membuatku hendak menoleh. Biarlah, aku sedang ingin bergelut dengan perasaan yang sekarang melanda.  Lalu ketukan itu pun makin keras terdengar.

“Mas, ada yang manggil tuh.” Ujar pria yang duduk di depanku sambil menunjuk ke arah jendela.

“Biarkan saja.” Jawabku, hanya menoleh sedikit ke luar. Kulihat kakakku meminta aku turun dari kereta, tapi aku sudah memantapkan hati untuk mengabaikannya.

Untunglah kereta segera berangkat. Kalau tidak, tentu Bang Doni akan naik kereta dan menyeretku turun dengan caranya yang seperti biasa, agak kasar.

Kemudian suara lengkingan makin meningkat intensitasnya. Mengiringi laju kereta yang makin kencang lajunya. Kutolehkan kepalaku sekali lagi ke luar jendela demi melihat ekspresi muka Bang Doni yang berada dalam campuran antara kaget dan kesal dengan sikap yang sedang aku lakukan.

Kereta belum terlalu jauh dari stasiun ketika ponselku berbunyi. Pesan dari Bang Doni: <Tak seharusnya kamu melakukan hal itu>.

Pikiranku kembali mundur beberapa jam. ~^Baca Selengkapnya^~

Perjalanan Hati

Perjalanan bukanlah tentang tujuan,

namun mengenai sebuah proses

Melacak Jejak Cinta #6

Sebelumnya baca dulu  #1 #2 #3 #4 #5

entah kenapa aku masih posting ini meskipun gak ada yang baca…. hhehe, biarin deh. muasin ego…..

 

Episode Enam

Sepotong Keindahan

 

Bandung Indah Plaza. Aku turun tepat di depan pintu utamanya. Sekilas sapuan pandangku tak banyak yang berubah dari tempat ini. Sisa-sisa ornamen valentine masih tampak di sudut-sudut BIP, padahal valentine telah lewat hampir 2 minggu.

Valentine, memberi kenangan yang mendalam pada diriku. Pada hari tersebut Chandra pertama kalinya menyatakan perasaannya padaku. Meski sebetulnya aku sudah menduga dia ada perasaan lebih padaku sejak beberapa bulan sebelumnya, namun tetap saja aku terkejut saat kata ‘cinta’ benar-benar diucapkannya. Cara dia menatapku, menyusun kata-katanya, gerak-gerik tubuhnya yang gelisah namun penuh daya harap membuatku tak mungkin menjawab ‘tidak’ pada permohonannya. Yes, I love to be your valentine. ~^Baca Selengkapnya^~

Sepotong Namamu di Cangkirku, Malam Ini

02-05-2012 ↔ 03-05-2012

Rindu, rintik merembas di kaca jendela. Kamu, namamu melekat di kepulan asap lembut secangkir cokelat panas. Malam ini, Mei, dan hujan. Dan ketika malam bergumul…  ku seruput kepulan namamu memasuki mimpi yang kemarin sempat kita bina bersama cawan-cawan secarta hati kita. kamu yang tak tahu itu semua, yang tak tahu namamu terbentuk dari kabut kerinduan… kamu yang terjebak oleh hujan.. kamu yang entah ada dimana

aihh, sekiranya rindu ini dalam rintik turut merembas di sejagat … mungkinkah kan kau rasakan kesamaan tentang malam ini.? Kamu, namamu yang melekat di kepulan asap coklat panas kesukaan kita

Malam ini, Mei, dan namamu. Datanglah sebelum hujannya reda karena seperti katamu di bawah gerimis 29 April “Cokelat panas berjodoh dengan hujan yang rembas ke hatimu.” Kamu, cangkirku, dan uapan yang merubah waktu jadi kabut. Namamu masih saja di sini, sampai cangkir terakhir. Namun nyatanya kau tak datang… Hanya potongan namamu yang mengepul semalaman, sampai hujan reda. Sampai cangkirku kosong dan kita masih senada dalam penantian yang engkau entah dimana.

Ribuan cangkir bekas cokelat panas kesepian, menunggumu sambil menatap jendela yang makin basah. Ingin mengatakan bosan… Namun aku tak akan pernah bosan dengan kepulan hangat aroma coklat… aku hanya berharap bahwa kau mengerti jika coklat ini selalu mengingatkanku padamu

Tak lama ada decak kaki . Terpijak lumpur-lumpur basah. makin lama makin dekat. Kukira namamu yang berdecak kagum dalam rinai hujan dan senandung kabut yang kini menebal lagi. Tapi nyatanya, hanya sepasang kaki mengantar pesan darimu…

‎”Aku takkan datang.” kau bilang.

Coklatku tak lagi manis.

Dua detik kemudian aku berbohong pada paru-paru kalau tadi hanya hembusan angin yang menyeruak. Entah apa. Mungkin denting hujan yang masih yakin kau hanya terlambat. Mungkin kau baru bisa tiba saat hujan musim depan.

Cikarang – Bandung – Batam
03 Mei 2012

ditulis oleh

Itaita (Facebook :Klik disini: – wordpress :Klik disini)
Tangguh Beta (Facebook :Klik disini: – wordpress :Klik disini)
Gun@one (Facebook :Klik disini: – wordpress :Klik disini)

Link Gambar : http://data.whicdn.com/images/27808335/a798dbb66ab211e180c9123138016265_7_large.jpg

Mata Hati

Kapan terakhir kali aku “melihat” dunia?
RINDU 

Melacak Jejak Cinta #5

Sebelumnya baca dulu  #1 #2 #3 #4

aku tahu gak bakalan ada yg baca ini… tapi aku gak peduli! ahaha!!!


Episode Lima

Keputusan

 

26 Febuari 2012

Chandra mengelus pipi untuk membangunkanku.

“Na, bangun. Ada yang harus kita obrolin,” ujarnya lembut memanjakan telinga.

Aku menggeliat, refleks memegang tangannya. Perlahan kubuka mata. Sebuah wajah yang sudah amat lama tak kulihat sedang tersenyum menenangkan. Sayangnya bukan Chandra. ~^Baca Selengkapnya^~

Post Navigation