Kabut Pikiran

Pikiran bagaikan kabut yang menghilang jika tak diabadikan dalam kata

Archive for the category “Uncategorized”

Ustaz Rizieq

Semua orang di kampung kami menyebutnya Ustaz Rizieq. Dia orang terpandang, tentu saja. Beliau adalah sosok inspiratif. Tak sedikit warga kampung yang diangkat derajatnya oleh Pak Ustaz Rizieq.
Pekerjaan sehari-hari Ustaz Rizieq tentu saja mengajar agama. Kami bisa dengan mudah menemui beliau pada saat subuh di mesjid mengisi kuliah subuh untuk bapak-bapak, pagi hari di SD dan SMP kampung, sore di mesjid dalam kegiatan pengajian ibu-ibu, dan selepas maghrib waktunya anak-anak belajar membaca alquran.
Sudah hampir 10 tahun Ustaz Rizieq menjadi pemandu utama dalam bidang keagamaan. Mungkin sudah ratusan orang yang tercerahkan berkat beliau. Pikiran, ucapan, dan tindakan Ustaz Rizieq adalah kebaikan. Tak satupun cela yang pantas hinggap dari dirinya.
Ustaz Rizieq adalah panutan. Semua orang tanpa ragu akan mengamininya.
Maka ketika pada suatu hari tersiar bahwa Ustaz Rizieq telah melakukan tindakan tidak senonoh pada salah satu gadis belia, Nunung, seisi kampung menjadi geger karenanya.
Menurut kabar, salah satu teman Nunung menyaksikan kejadian tersebut secara langsung. Ustaz Rizieq menggerayangi tubuh Nunung di rumah gadis yang bulan lalu baru saja menginjak usia 15 tahun itu. Pada saat itu ayah dan ibunya sedang pergi ke kondangan di kampung sebelah.
Menyadari telah terpergok, Ustaz Rizieq marah-marah pada sang saksi dan Nunung. Dia berteriak-teriak sambil keluar rumah Nunung. Katanya dia telah dijebak, dirinya sedang dikriminalisasi oleh pihak-pihak yang tidak menyukainya.
Sejak saat itu pula Ustaz Rizieq meninggalkan kampung. Dia pergi ke kota, mengunjungi saudaranya. Dan berjanji takkan pulang hingga nama baiknya telah dibersihkan kembali.
“Ini jelas-jelas sebuah tindakan kriminalisasi terhadap ulama!” Ujar Jajang, salah satu murid Ustaz Rizieq (meskipun sebetulnya pada kenyataannya hampir seluruh warga kampung adalah murid Ustaz Rizieq).
Tak ingin masalah ini menjadi berlarut-larut. Pak Kades membentuk tim pencari fakta. Hasilnya adalah ternyata kejadian itu nyata. Dan jelas bukan untuk yang pertama kalinya. Selain Nunung, ada beberapa gadis (dan jejaka⸮) yang mengakui bahwa beberapa bagian tubuh pribadi mereka disentuh sebagai bagian dari “pengajaran.”
Namun menurut mereka Ustaz Rizieq hanya menyentuh. Tidak melakukan hal yang lain.
“Fitnah! Itu pasti rekayasa!”
“Semakin tinggi kemuliaan seseorang, tentu makin banyak yang tidak menyukainya.”
“Anak-anak tidak sah dijadikan saksi!”
“Ini rencana sistematis untuk mempidanakan Ustaz Rizieq!”
“Mari kita kumpulkaan seribu tanda tangan. Sebagai bentuk dukungan bahwa Ustaz Rizieq tidak bersalah.”
Para pendukung fanatik Ustaz Rizieq berkoar-koar menyatakan ketidaksetujuannya terhadap rencana pemanggilan Ustaz Rizieq untuk pulang dan memberikan keterangan.
“Saat kampung ini dilanda longsor, siapa orang yang hampir tidak istirahat memberikan tenaga dan pikirannya untuk menolong para korban? Bukankah Ustaz Rizieq?”
“Coba hitung, sudah berapa orang ahli hafalan Quran yang telah dibimbing Ustaz Rizieq?”
“Bukankah para duafa bisa makan karena Ustaz Rizieq begitu amanah dalam mengelola dana ZIS?”
“Siapa yang memberi surat rekomendasi sehingga putera-putera terbaik kita bisa bersekolah di pesantren terhebat di negeri ini?”
“Ada berapa orang yang beliau umrah-kan?”
“Ini bagaikan pepatah, ‘karena nila setitik rusak susu sebelangga.’ Karena satu kejadian kecil sehingga kita melupakan jasa-jasa beliau yang hampir tak terhitung banyaknya.”
Namun orang tua Nunung (dan orang-orang lainnya) hanya ingin penjelasan. Mereka hanya ingin bisa bertemu dengan Ustaz Rizieq, dan mendengar penjelasan langsung dari beliau. Benar atau tidaknya. Ini fitnah atau fakta.
“Jika begitu, datang saja ke kota! Temui beliau di sana. Dan silakan bertanya sepuasnya.”
“Yang jelas, beliau takkan pulang hingga hukum yang adil telah ditegakkan!”
Masalah yang seharusnya dapat mudah diselesaikan, ternyata membuat seisi kampung bergejolak, antara yang fanatik buta dengan orang-orang yang hanya ingin penjelasan langsung. Manusia pernah khilaf, tentu saja. Tak ada manusia satu pun yang luput dari dosa. Dan begitu pula dengan Ustaz Rizieq.
Jangan mencampuradukan antara yang hak dan yang batil. Yang benar adalah benar, sehina apapun orangnya. Dan yang salah adalah salah, sesuci apapun orangnya.
Hingga kini warga kampung masih menunggu Ustaz Rizieq pulang. Dan memberikan keterangan.
Warga kampung ingin percaya bahwa ini fitnah belaka. Namun jika sikap Ustaz Rizieq seperti ini, bagaimana mereka bisa memercayainya?

Aku yang bukan aku

Jangan repot-repot bertanya
Aku kemana
Aku kenapa
Aku bagaimana
Aku sedang apa

Karena….

Ah, lupakan saja.
Aku bukan aku yang sudah lama kukenal

Mencintai Senja

Aku adalah pria
Yang terlalu mencintai senja
Mencintai warnanya yang merona jingga
Mencintai bias-bias cahaya samar kaya pesona

Aku adalah pria yang terlalu mencintai senja
Hingga percaya bahwa Tuhan menciptakan dunia hanya untuk membuat senja itu nyata

Tubuh Sunyi

Seringkali aku bertanya-tanya, “benarkah kita sendirian saja di alam semesta maha luas ini?”

WAR Team Goes To Bandung

Seharusnya aku nulis ini sejak beberapa bulan yang lalu sebagai bagian dari kesepakatan yang telah dibuat saat Tim WAR melakukan kopi darat pertama pada akhir bulan Januari kemarin. Karena satu dan lain sebab (kebanyakan sih karena rasa malas), aku selalu menunda untuk menulis kesan-kesan yang kudapatkan mengenai kopi darat tersebut.

war

Mulanya aku pengen nulis sejenis catatan perjalanan. Seperti tempat yang dikunjungi, tempat makan, soal cuaca, kejadian menarik, dan sebagainya, dan lain-lain. Tapi kali ini aku mau nulis kesanku dari sisi teknologi dan pengaruhnya terhadap cara interaksi antar manusia akhir-akhir ini. Temanya membosankan? Mungkin. 😀

Kadang-kadang aku diundang, atau mengundang, atau datang tanpa diundang, pada kegiatan kumpul-kumpul. Baik itu dengan teman kampus, teman kuliah, atau rekan kerja. Aku senang berkumpul. Tapi aku sering kali merasa tidak nyaman dengan kegiatan berkumpul tersebut akhir-akhir ini. Kenapa? Karena alih-alih mencurahkan tubuh, pikiran, dan perhatian pada kegiatan berkumpul tersebut, seringkali hasil akhirnya adalah  badan kita datang ke tempat tertentu, tapi kenyataannya pikiran kita berada di tempat yang berbeda.

Kumpul-kumpul menjadi ajang pamer gadget, setiap orang sibuk dengan kegiatan berkicaunya di twitter atau sekedar check in foursquare. Setiap orang sibuk dengan gadget-nya, setiap orang lebih memilih untuk berada di dunia maya, kegiatan tersebut hanya menjadi sekedar acara makan tanpa adanya interaksi satu dengan yang lainnya yang ada di ruangan tersebut. mereka sibuk menatap layar masing-masing tanpa mau repot-repot menatap wajah orang yang ada di hadapannya.

Mungkin prinsip yang sekarang ini dianut adalah, “masih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan orang itu, tapi interaksi dengan dunia maya tak boleh ketinggalan.”

Aku sendiri sudah agak lupa awal mula kami semua kenal di dunia maya. Kalau tidak salah beberapa dari kami kenal berkat sering berbagi komentar di blog, terus kemudian berteman di facebook, dan media-media sosial lain. Sekitar tiga tahun kami saling bertukar kata lewat dunia maya. Berbagi komentar-komentar yang seringkali random. Dan pada akhirnya memutuskan untuk membuktikan bahwa kami adalah orang-orang yang punya jasad, punya hidaung, punya mulut, dan lain sebagainya, kami memutuskan untuk bertemu secara nyata. Di Bandung.

Kopi darat ini direncanakan sudah cukup lama, kalau tidak salah pertengahan tahun kemarin. Tak ada persiapan yang terlalu khusus. Paling hanya tiket pesawat, soal penginapan, tempat yang akan dikunjungi, rental mobil, estimasi budget, dan hal-hal yang lain sebagainya. Dan semakin dekat waktu pertemuan, semakin banyak pertanyaan yang menyeruak dalam hatiku. Apakah mereka semenyenangkan ketika kami berbagi untaian huruf? Apakah foto-foto dalam media sosial itu nyata? (bahkan satu orang aku benar-benar penasaran dengan sosoknya karena dulu dia selalu memasang foto tokoh kartun yang lucu-lucu sebagai pengganti foto profilnya) 😀

Dan hari itu pun tiba…..

Ada sedikit keterkejutan. Katanya foto itu menipu, tapi sepertinya kata yang lebih tepat adalah kita tak pernah benar-benar memerhatikan foto orang lain selain diri sendiri. Jadi, ya. Aku pikir ada beberapa detail yang tak kusangka mengenai teman-dunia-mayaku.

Oke, sebelum aku melantur kemana-mana, sebaiknya kita kembali lagi ke fokus awal penulisan. Teknologi dan interaksi manusia.

Kami dipertemukan di dunia maya. Kami menghabiskan begitu banyak waktu berinteraksi satu sama lain melalui teknologi. Kami sudah cukup lama berbagi cerita lewat barisan huruf. Dan aku sangat bersyukur bahwa ternyata (sepertinya) kami berbagi pemahaman yang sama: Media sosial bisa kapan saja, tapi pertemuan dengan orang-orang ini hanya terjadi kurang dari seratus jam, dan entah kapan bisa bertemu secara fisik lagi. Jadi daripada berbodoh-bodoh ria dengan menatap layar hape, lebih baik bercengkrama dengan orang-orang tersebut yang entah kapan bisa dipertemukan lagi.

Jadi yang terjadi adalah kami mencurahkan tubuh, tenaga, pikiran, dan lain sebagainya pada momen yang sedang berlangsung. Kami mengobrol dengan menatap wajah lawan bicara, kami berbagi cerita lewat kata-kata, kami menggunakan tangan untuk saling berpegangan dengan teman-teman (bagian terakhir lebay sih, kami tidak benar-benar bergandengan tangan selayaknya anak sekolah dasar). Tapi intinya adalah kami berada di tempat itu, saat itu, bersama orang-orang yang ada disitu.

Aku tak bilang selama kegiatan dua hari tersebut gadget sama sekali tak disentuh, atau sama sekali tak menulis tweet dan status atau check in. Tapi kami tahu diri untuk tak melakukannya lama-lama, bahkan aku hampir tak melihat ada gadget di atas meja saat kami melakukan ritual makan, atau di atas pangkuan saat duduk dalam mobil selama perjalanan. Alih-alih memegang gadget kami saling berkomentar mengenai apa yang sedang terlihat, atau sedang terasa, atau sedang terpikirkan.

GADGET FREE….

Dan itu jadi salah satu pertemuan paling mengesankan dalam hidupku. Aku  benar-benar hidup, aku benar-benar berada pada momen, aku benar-benar mewujud dalam kegiatan tersebut. Satu hal yang sangat aku syukuri adalah kenyataan bahwa kami teman di dunia maya, yang berinteraksi total di sana. Jadi saat bertemu di dunia nyata kami juga berinteraksi total di sini.

Betapa indahnya jika kita semua sadar pembagian dunia itu secara bijak.

 

PS: Kunjungi juga blog mereka 😀

 

(Pengen) Beli Rumah: Survei Dulu

Sebagai pria bertanggung jawab dan sayang keluarga (halah :D) aku memutuskan untuk membeli rumah. Dan menurut para orang tua katanya beli rumah itu bukan perkara yang main-main. Butuh niat yang kuat, modal yang cukup, dan juga strategi yang tepat (mencangkup lokasi, kondisi rumah, harga penawaran, dll). terus terang aku jadi kuatir duluan.. hehe
Untuk sedikit menghapus “ketakutan”, aku mulai dari hal yang pertama terpikirkan: kecenderungan pasar.
hasil yang aku dapat adalah:
1. Ternyata memang kebanyakan yang mengajukan pembelian rumah itu para pria-pria ramah nan baik hati seperti diriku (cocok)
2. Pekerjaannya adalah karyawan swasta (cocok)
3. Pendapatannya kurang dari 9.700 dolar pertahun atau setara dengan 106.700.000 rupiah setahun yang artinya 8.891.666 rupiah per bulan (haduuuuh…. gajinya musti segitu ya?)
4. Kebanyakan beli rumah untuk pertama kalinya (berarti aku juga termasuk)
5. Usianya antara 20-30 tahun (oke. aku masih 19 tahun kok… hehe)
6. Kebanyakan pengennya rumah bertingkat (aku sih rumah sederhana aja)
7. Rata-rata baru beli rumahnya kurang dari 6 tahun (berarti pertumbuhan propertinya baru sekitar 6 tahun)
8. semua punya pertimbangan yang sama, yaitu lokasi, harga, dan potensi balik modal
9. Anggaran rumahnya sekitar 19.400 dolar atau sekitar 220 jutaan (waaah… ternyata rumah semahal itu ya)
10. Yang paling ditakutkan adalah harganya terus saja merangkak naik… (makin banyak yang pengen beli rumah sih.)
melihat survei itu aku jadi mikir kalo beli rumah tuh jangan ditunda-tunda. beli cepetan…!!

Artikel penuh di situs jual rumah di Indonesia, Rumah123.com.

Hocrux dan Bocah Lugu Pencari Batu

Semua orang tentu mengenal Harry Potter. Dia akan menjadi salah satu selebritis paling dikenal baik di dunia Muggle maupun Sihir. Hanya sedikit sekali yang sadar – atau bahkan tak seorang pun – yang menegrti bahwa aku telah menyaksikan seluruh sepak terjang “hebat” si Bocah. Tidak juga saat pada akhirnya aku harus mati. Tapi itu cerita yang berbeda.

            Kisah si Bocah bermula dari matinya kedua orang tua bocah bernama Harry ini. Dia terpaksa dititipkan di kediaman satu-satunya kerabat yang masih dimiliki – Kakak perempuan ibunya -. Yang mengikuti kisah si Bocah tentunya belum menyadari betapa pentingnya keputusan Dumbledore tersebut – sama seperti tak tahunya mereka, pembaca, bahwa sejak saat itu aku terjebak dalam tubuh Harry -. Tapi itu cerita yang lain.

            Si Bocah hingga menjelang umurnya yang kesebelas selalu ditindas oleh setiap anggota keluarga Dursley tempatnya ditampung. Mulai dari harus tidur di bawah tangga, memakai baju sisa sepupunya, memakai kacamata berselotip, ditindas secara verbal oleh Pamanya. Si Bocah tak menyadari bahwa dirinya istimewa. Salah satu keistimewaannya adalah ternyata si Bocah bisa palsetounge, bahasa ular. Hal tersebut diketahui saat dirinya ke kebun binatang dalam rangka ulang tahun Duddley, sepupunya. Tanpa si Bocah pahami dia telah membantu pelarian seekor Boa Pembelit dan sempat “bercakap-cakap” dengan sang Ular. Tentu saja kemampuan memahami bahasa ular tersebut berkat diriku. Tapi itu cerita yang lain.

            Bagai iring-iringan sirkus, keanehan terus berlanjut. Datang sebuah surat misterius entah-dari-siapa, surat tersebut dimusnahkan oleh paman dan bibinya karena dianggap membahayakan tujuan yang telah keluarga Dursley sepakati: menjauhkan si Bocah dari “kaumnya”. Namun aku tahu, surat itu akan terus berdatangan sampai si penerima yang dimaksud telah membacanya. Satu menjadi sepuluh, lalu seratus, kemudian surat-surat tersebut mengalir masuk dari setiap celah seperti air bah. Surat tersebut akan selalu mengikuti kemana pun si penerima pergi. Aku tahu karena di waktu yang sangat lampau aku juga menerima surat yang sama. bagaimana aku tahu? lagi-lagi itu cerita yang lain.

            Di tengah batu karang bisa menghilangkan jejak? Tentu tidak. Seorang pria separoh-raksasa menggedor pintu di tengah malam yang diliputi badai. Berlawanan dengan sosoknya yang menyeramkan, si pria ternyata kikuk dan semberono. Hagrid, namanya, memberi si Bocah kue ulang tahun. Kue ulang tahun pertama bagi si Bocah. Tak lupa Hagrid memberi kado yang amat istimewa untuk si Bocah. Sebuah Informasi. Ternyata si Bocah adalah seorang penyihir. Si bocah kaget – tapi aku tidak, karena sejak dulu aku tahu dia adalah seorang penyihir sepertiku-. Kisah tentang aku seorang penyihir merupakan kisah yang lain.

            Si Bocah akan masuk sekolah sihir. Dan tentunya dia membutuhkan perlengkapan-perlengkapan sihir. Pusat pertokoan Sihir di Inggris hanya ada di Diagon Alley. Disanalah si bocah berbelanja setelah sebelumnya mengambil sejumlah uang di bank penyihir. Si Bocah sangat senang melakukannya. dia membeli jubah, kuali, buku-buku, serta tak lupa mencari tongkat sihir yang cocok. Si Bocah yang mengira dirinya bukanlah apa-apa ternyata menyimpan sesuatu yang cukup aneh – bahkan dalam kapastitas dunia sihir – inti tongkat sihirnya ternyata sama dengan milik Dia-yang-namanya-tak-boleh-disebut. Tentu saja aku punya andil dalam misteri tersebut. Tapi itu cerita yang lain.

            Hagrid memberi tiket  menuju sekolah pada si Bocah. Peron sembilan tiga per empat di King Cross. Sayangnya ternyata tak ada peron bernomor demikian. Tapi beruntungnya adalah si Bocah bertemu dengan keluarga penyihir berambut merah yang memiliki terlalu banyak anak untuk diurus. Dari keluarga tersebutlah Harry tahu cara menuju sekolah. Semenjak kejadian itu pula si Bocah berteman baik dengan salah satu anak berambut merah tersebut. Pertemanan yang sangat aku benci. Tapi itu cerita yang lain.

            Pemilihan asrama adalah saat paling mendebarkan untuk semua murid baru. Mereka akan dipilah menjadi empat kelompok, sesuai jumlah asrama. Katanya tiap asrama memiliki nilai-nilai keluhuran masing-masing – aku tak terlalu percaya -. Aku tahu seharusnya si Bocah masuk asrama Slyterin, seperti yang kuharapkan. Namun ternyata si Bocah memilih Gryffindor. Dan si Topi Seleksi menuruti keinginan si Bocah. Padahal sesungguhnya dia ditakdirkan untuk masuk Slyterin. Tapi itu cerita yang lain. Dan mungkin takkan pernah diceritakan.

            Si Bocah tentu saja terkenal. Dialah satu-satunya orang yang pernah bertahan hidup dari sebuah kutukan-tak-termaafkan paling mengerikan. Dia populer, hampir semua orang menyukainya. Namun untungnya masih ada satu guru yang berpikir secara seharusnya dan memilih untuk membenci Harry sejak pertemuan pertama. Untuk alasan yang belum kuketahui, Snape terlihat membenci si Bocah setengah mati. Sayangnya Snape tak benar-benar membenci Harry. Dan itu kisah yang lain.

            Selain Snape, ada seorang bocah seangkatannya yang juga membenci Harry. Draco Malfoy menantang Harry untuk duel. Si Bocah menerima tantangan tersebut tanpa benar-benar mengerti alasan sesungguhnya. Bersama Ron, sahabatnya, – ditambah cewek sok tahu – si Bocah menyelinap tengah malam untuk menghadiri duel. Namun malang tak dapat ditolak, Penjaga Sekolah mendapat kisi-kisi bahwa akan ada siswa yang berkeliaran malam-malam di koridor sekolah. Harus menyembunyikan diri dari pantauan Penjaga Sekolah. Uniknya adalah mereka malah masuk satu koridor yang terlarang. Mereka bertiga bertatapan langsung dengan seekor anjing berkepala tiga yang sedang menjaga sebuah pintu. Aku tahu barang yang dijaga oleh anjing tersebut. Tapi nanti saja kuceritakan.

            Haloween merupaka titik penting dalam kehidupan si Bocah. Lewat kejadian luar biasa hari itu si Bocah mendapat seorang sahabat baru, si Cewek sok tahu. aku sungguh benci dengan persahabatan tersebut karena Hermione, namanya, terlampau pintar sehingga bisa merusak segala rencanaku. Tapi itu kisah yang lain.

            Si Bocah mewariskan gen ayahnya yang jago bermain Quidditch. Meski umumnya murid tahun pertama tidak boleh ikut menjadi pemain, si Bocah malah menjadi salah satu pemain kuncinya, Seeker. Meski pengalaman pertama tersebut dibayangi oleh gerak liar sapu yang dia naiki. Tapi toh si Bocah masih selamat. Tak ada kisah lainnya.

            Si Bocah tahu bahwa anjing tempo hari yang dia temui sedang menjaga sebuah benda ajaib. Sifatnya yang sok ikut campur membuat dia dan teman-temannya mencari tahu benda yang dimaksud. Tak kapok hampir ketahuan, si Bocah kembali berkeliling sekolah malam-malam. Kembali dirinya hampir ketahuan oleh Penjaga Sekolah. Lagi-lagi kejadian kebetulan terjadi. Si Bocah menemukan sebuah cermin yang tidak memantulkan bentuk fisik, melainkan bentuk hasrat sang objek. Kisah si Bocah – dan aku – hampir mencapai klimaks.

            Si Bocah dan teman-temannya akhirnya tahu bahwa yang disembunyikan adalahs ebuah batu ajaib yang bisa mengubah seseorang menjadi abadi hanya dengan meminum cairan yang dihasilkan dari batu tersebut. Penciptanya adalah Nicholas Flamel. Si Bocah mencurigai bahwa seseorang sedang menginginkan batu tersebut. Tersangka telah ditetapkan. Si Bocah memutuskan untuk lebih intens mengawasi si tersangka.

            Hagrid telah menganggap bahwa si Bocah adalah salah satu sahabatnya. Dia mengundang si Bocah untuk menikmati jamuan teh di pondoknya. Jamuan teh yang sama sekali tak menyenangkan. Mereka mendapati bahwa Hagrid mencoba menetaskan sebuah telur naga, Naga Punggung Bersirip Norwegia. Merasa bahwa tak mungkin selamanya dipelihara, dengan sangat berat hati Hagrid melepas naga tersebut untuk dirawat oleh peneliti naga agar bisa hidup liar sebagaimana mestinya. Namun malang, kali ini kegiatan penyelinapan mereka diketahui. Si Bocah dan kawan-kawannya ketahuan dan harus menjalani detensi. Kisah ini makin mendekati akhir.

            Detensinya adalah menemani Hagrid mencari penyebab terbunuhnya Unicorn di Hutan Terlarang. Setelah melalui pelacakan terhadap tetesan darah keperakan Unicorn, Si Bocah melihat sesosok mahluk berkerudung yang sedang menghisap darah Unicorn. Kaget dan takut berpadu. Hampir saja si Bocah terbunuh jika tidak diselamatkan oleh seorang Centaurus bernama Firenze. Aku merasakan sensasi yang aneh saat berdekatan dengan mahluk berkerudung tersebut, tapi itu cerita yang lain.

            Pencuri Batu telah bergerak. Atas dasar kebajikan, si Bocah dan sahabat-sahabanya mencoba mengejar sang pencuri melalui pintu jebakan. Mereka harus melewati serangkaian teka-teki dan tantangan demi mencapai tempat disembunyikannya batu. Satu tujuan mereka: menggagalkan Snape mencuri batu.

            Sampai di tempat terakhir. si Bocah menemukan kejutan.

            Dan aku menolak bercerita.

            Yang jelas si Bocah selamat. Diberi penghargaan. Semua berakhir bahagia.

 

Bersambung ke bagian dua: Hocrux dan Bocah Pencari Kamar Rahasia

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam event Hotter Potter 😀

Post Navigation