Kabut Pikiran

Pikiran bagaikan kabut yang menghilang jika tak diabadikan dalam kata

Archive for the tag “astra honda”

Kenangan Terakhir Papa

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’
#SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Utamakan selamat[5]

“Siapapun ingin melepas kepergian orang yang dikasihinya dalam kondisi terindah dan dalam damai.”

Aku membayangkan Papa akan meninggal dalam tidurnya, dengan rambut yang sudah memutih tanda kebijaksanaan, kerut-kerutan di wajah pancaran keramahan, senyum yang terkulum, dalam dekapan Mama yang penuh cinta. Lalu kami akan melepas Papa dalam keharuan, karena demikian lah takdir Tuhan. Dia Yang Maha Kuasa memberi nyawa, Dia pula yang Maha Berkehendak untuk mencabutnya.  Tak ada satu atom pun di alam semesta ini yang bisa menolak kuasa-Nya.

Ya, kami ingin mendapatkan kenangan yang terbaik untuk selalu dapat diingat seumur hidup.

Namun yang kami inginkan tidaklah sesuai dengan yang kami dapatkan.

Sore yang damai kala itu diganggu oleh seruan Kang Asep, tukang ojek langganan Mama, di depan pagar rumah.

“Bu Haji!!!” Suaranya penuh dengan ketergesaan.

“Ada apa, Kang?” Aku mengalihkan perhatian dari majalah yang sedang kubaca di sela-sela menjaga warung.

“Pak Haji… Pak Haji…” ceracaunya tidak jelas.

“Ada apa dengan Pak Haji?” Balas Mama dari pintu depan. Wajah beliau menyiratkan kegelisahan.

“Pak Haji tabrakan!”

“Innaillahi…” Mama langsung terduduk di teras.

Berlawanan dengan kabar buruk yang dibawa Kang Asep, aku malah tersenyum, “Lagi-lagi” ucapku dalam hati. Ini kejadian yang kesekian kalinya bagi Papa. Dalam setahun ini lebih dari lima kali Papa mengalami kecelakaan. Kebanyakan sih bukan merupakan kejadian yang serius, hanya berkisar pada menabrak tembok, terjatuh ketika belok, atau masuk got.

Papa memang bandel. Berkali-kali aku mengingatkan Papa untuk berhati-hati dalam berkendara. Jangan ngebut, pakai helm, dan pakai kacamata minusnya. Tapi berkali-kali beliau menjawab bahwa dia akan baik-baik saja. Karena segala sesuatu sudah ada yang mengatur.

“Jodoh, bahagia, maupun celaka sudah diatur oleh Allah. Kita jangan pernah takut akan apapun. Hanya takutlah pada Allah. Jika Dia sudah berkehendak, maka jadilah. Buktinya Papa meski sudah beberapa kali jatuh dari motor tetap baik-baik saja. Karena Papa percaya bahwa hanya Allah lah pelindung Papa, dan Dia lah sebaik-baiknya pelindung. Bukan helm maupun kacamata.” Papa selalu berhasil menemukan bahan ceramah yang membuatku tidak bisa berkutik untukku.

Kali ini Papa kecelakaan. Lagi. Mungkin ini saatnya bagiku untuk mendesak Papa untuk benar-benar berhenti mengemudikan motor.

“Ayo kita pergi, Kang.” Kataku sambil menenteng helm. Segera aku duduk di kursi belakang.

“Mama pengen ikut, Risa.” Mama buru-buru mendekati kami.

Dengan wajah yang khawatir bercampur bingung Kang Asep menatapku.

“Akang tunggu aja di sini.” Putusku.

“Tapi, Neng…” Kang Asep terdengar keberatan dengan ide yang aku ajukan.

Aku menyuruh Kang Asep untuk memberikan helmnya pada Mama. Dia bilang bahwa lokasi tabrakannya tak jauh dari pintu gerbang kompleks.

Dan kami pun melaju. Menyongsong sebuah kenyataan yang akan membekas dalam ingatan seumur hidup.

*

Dari kejauhan sudah terlihat kerumunan orang-orang. Lalu lintas mengalami kemacetan karena budaya masyarakat Indonesia yang serba ingin tahu segala sesuatu. Tujuan mereka hanya satu: menonton kecelakaan.

Seperti tak ada kegiatan lain saja, gerutuku dalam hati.

Mama sudah mengeluarkan tangisnya yang terbaik sementara kami mencoba menyeruak kerumunan. Aku cukup yakin bahwa Papa sedang terduduk di trotoar, minum untuk menenangkan diri, dan hanya menderita sedikit lecet-lecet.

“Papa!!!” Jerit Mama histeris sebelum akhirnya ambruk di sampingku.

Sungguh aku tak siap untuk menyaksikan pemandangan di depanku. Lututku seketika mati rasa. Lidah kelu tak sanggup mengolah kata. Otakku menolak untuk memproses data.

Arian, adik lelakiku yang baru berumur 10 tahun sedang menangis dalam pangkuan seseorang. Celana jeansnya robek di bagian lutut, memperlihatkan luka parut cukup parah. Bibirnya sobek dan mengeluarkan darah.

Arian cukup beruntung. Sangat beruntung.

Jauh berbeda dengan Papa. Sungguh sangat berbeda dengan yang dialami oleh Papa.

Peci bulat putih milik Papa kini berubah warna menjadi merah. Begitu pula dengan kemeja biru dan celana katun hitam beliau ternoda oleh tanah serta darah. Sesuatu berwarna putih menyembul dari robekan kain di bagian sikut.

Dan yang lebih membuat aku tak mampu untuk bertahan adalah wajah Papa. Mata beliau membelalak oleh teror. Tatapan ketakutan Papa menyaksikan momen sepersekian detik yang akan menimpanya. Cairan merah kental tak hentinya mengalir dari hidung, mulut, dan entah dari lubang mana lagi milik Papa.

Dan yang paling mengerikan adalah kepala Papa bagaikan batok kelapa yang dijatuhkan dari lantai lima, terdapat celah besar yang diiringi oleh keluarnya darah merah dan sesuatu yang berwarna perpadua kuning dan hijau.

Aku muntah oleh horor. Aku tak sadarkan diri akibat trauma sangat hebat. Trauma yang akan membayangiku seumur hidup.

Sebuah kenangan terakhir mengenai Papa.

*

Katanya kejadian itu terjadi saat Papa hendak belok kanan menuju kompleks. Namun seperti kebiasaan, beliau langsung mengambil lajur paling kanan dari lajur paling kiri. Papa berpendapat bahwa dirinya sudah memasang lampu sein tanda belok kanan, maka seharusnya siapapun harus tahu bahwa itu artinya mau belok kanan. Semendadak apapun lampu itu dinyalakan.

Berkali-kali aku memperingati Papa untuk selalu mengambil ancang-ancang serta aba-aba minimal 20 meter sebelumnya. Selalu ikuti alur sambil sedikit demi sedikit melaju ke lajur kanan. Beri hak pengendara lain untuk mengambil ancang-ancang pula atas tindakan kita. Apakah dia perlu melambatkan lajunya untuk kemudian melewati kita dari kiri.

Tidak seperti yang terjadi pada saat itu. Papa menyalakan lampu sein kanan dari posisinya di lajur paling kiri dekat trotoar, seketika itu pula beliau memaksa menuju lajur kanan karena gerbang kompleks berada 3 meter di depannya. Bagian belakang motor Papa terserimpet oleh motor di belakang. Arian terjatuh seketika itu juga. Namun untungnya kendaraan di belakang dapat mengendalikan lajunya dan Arian terhindar dari tragedi tertabrak atau malah tergilas.

Namun Papa tidak beruntung. Setelah sesaat sanggup mengendalikan kembali motornya, dari arah depan sebuah minibus terlambat untuk bertindak. Lagi-lagi motor Papa terserimpet, kali ini sampai jatuh dan menyeret Papa bermeter-meter jauhnya. Kepala Papa terbentur aspal dengan sangat keras.

Dan kemudian menyisakan pemandangan traumatik tersebut.

*

Hidup Mama tak pernah lagi sama. Begitu pula hidupku. Juga hidup Arian, adik kecilku. Dan mungkin juga hidup semua orang yang mengenal Papa.

Arian selalu muntah jika melihat sesuatu yang berwarna merah, atau sesuatu yang berbentuk bulat, atau juga apapun yang berwujud cairan kental. Bisa dikatakan Arian muntah dalam hal apapun.

Aku hampir tak berani memejamkan mata pada malam hari karena selalu dipastikan akan berakhir dengan mengalami mimpi buruk. Mimpi detik-detik aku menyaksikan kejadian sore itu. Sore ketika Papa menyajikan pemandangan perpisahan terakhirnya.

Mama menderita paling parah. Hampir setiap menit dia melamun, terus menangis sepanjang hari dan malam, tak mampu ataupun mau menerima asupan makanan, seringkali menjerit tak terkendali. Sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya tiga bulan setelah kepergian Papa. Meninggal oleh rasa sakit dan penderitaan.

Kami semua menjadi saksi keegoisan Papa.

Aku yakin bahwa Papa sudah tenang di alam sana. Tak ada yang perlu Papa khawatirkan lagi selain menunggu Masa Penghitungan Amalan. Seperti yang selalu Papa katakan bahwa jodoh, bahagia, maupun celaka adalah kehendak Yang Maha Kuasa, namun Papa sudah bertindak seenaknya dengan memilih untuk meninggalkan kenangan perpisahan paling buruk di dunia.

Papa membiarkan kami menyaksikan pandangan keputusasaan serta kondisi tubuh yang paling mengerikan.

Papa egois! Mau seenaknya sendiri!

Seharusnya dia sadar bahwa keselamatan bukanlah untuk dirinya sendiri melainkan untuk orang-orang yang menyayanginya. Papa seharusnya ingat bahwa jika terjadi sesuatu akan dirinya di jalanan bukan hanya Papa yang menanggung akibatnya, melainkan orang-orang di sekitarnya. Terutama orang-orang yang menyayangi Papa. Seperti kami.

Memang Tuhan yang mengatur umur setiap manusia. Namun bukankah manusia diberi kewenangan untuk menentukan bagaimana caranya mereka mati? Apakah dalam tempat ibadah? Di lokasi judi? Atau di jalanan?

Dan ternyata Papa memilih untuk meninggal di jalanan. Secara tragis pula. Meninggalkan trauma yang sangat mendalam bagi kami semua.

sumber gambar: http://lesyakoe.blogspot.co.id/2011/06/pengetahuan-mengendarai-sepeda-motor.html

Post Navigation