Kabut Pikiran

Pikiran bagaikan kabut yang menghilang jika tak diabadikan dalam kata

Archive for the category “Inspirasi”

Diari Zombigaret : Aku Yang Tersiksa

DYING-TIMESNamaku Zombigaret, panggil saja aku begitu. Tentu saja itu bukan nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku ketika aku lahir dulu. Aku belum mati. Tapi aku juga tak bisa menyebut bahwa sesuatu yang sedang kujalani ini adalah sebuah kehidupan.

Aku tak mau mati. Tapi aku jauh lebih tidak ingin jika harus hidup seperti ini lebih lama lagi. Aku sedang sekarat. Sekarat yang penuh dengan penderitaan.

Harapanku hanya satu: Tuhan bersedia mengangkat rasa sakit ini dariku. Entah dengan mencabut nyawaku, atau menyembuhkan aku. Tapi kupikir Beliau takkan pernah mendengar doa dari orang penuh dosa sepertiku. Ya, aku berlumur dosa. Aku berdosa karena tak mensyukuri nikmat-Nya, juga berdosa karena telah menzalimi orang lain.

Semua karena rokok. Sesuatu yang telah kuhisap selama bertahun-tahun.

Ini diariku. Zombigaret. Sang Mayat-hidup pecinta sigaret.

Entah berapa puluh ribu batang rokok yang telah kuhisap selama hidupku, aku tak pernah benar-benar menghitungnya. Aku dulu seorang manusia biasa, yang tentu saja tak terlepas dari masalah kehidupan. Dan rokok adalah rekan terbaik untuk sejenak meredakan ketegangan hidup. Menghisap rokok selalu dapat menentramkan hatiku, selalu dapat membuat aku lebih nyaman, selalu menjadi pegangan dan solusi dalam menghadapi masalah. Aku telah menduakan Tuhan. Aku lebih memilih mengadu kepada sebatang rokok dibandingkan mengadu kepada-Nya.

Aku juga berdosa karena telah berbuat zalim. Aku telah memaksakan kesenanganku sendiri dan tak memedulikan kebahagiaan orang lain. Aku telah seperti Firaun yang merasa paling benar sendiri. tak terhitung banyaknya aku merokok di tempat umum, membagi-bagi asap rokokku pada orang-orang sekitar. Kepada ibu hamil, kepada anak-anak, kepada orang sakit. Dan lebih jahatnya aku selalu menganggap mereka yang tidak setuju dengan tidakanku sebagai orang yang tidak menghargai hak asasi orang lain. Tapi tahu apa aku soal hak asasi? Aku juga telah melanggar hak asasi orang lain dengan mengganggu mereka dengan asap rokokku. Lagi-lagi aku berdosa.

Dan kini aku menerima sebagian kecil dosaku. Aku menderita kanker. Kanker yang sedikit-demi sedikit menggerogoti daya hidupku. Aku kini tak benar-benar hidup. Tapi juga tak bisa dikatakan mati. Aku tersiksa akibat rokok. Ratusan kali lebih banyak dibandingkan kenikmatan yang kudapatkan berkat rokok.

Meski aku yakin takkan ada seorang pun yang mengerti derita yang kurasakan akibat kanker ini. Mulanya aku hanya menderita semacam sariawan pada lidah. Sakit, namun masih bisa kutahan. Dan aku merokok lebih banyak lagi untuk meredakan rasa sakitnya. Lama kelamaan sariawan ini membesar dan sangat mengganggu proses makan dan bicaraku. Seringkali sakitnya amat terasa kala tidur, aku sering sekali terbangun oleh rasa sakit yang amat hebat di kepala. Tapi semakin aku merasa sakit, semakin banyak pula rokok yang kuhisap. Hingga akhirnya hampir seluruh mulutku penuh oleh benjolan seperti borok.

Dan kemudian tenggorokkanku sakit. Perlahan namun pasti satu persatu jenis makanan tidak lagi -kukonsumsi – lebih tepatnya tidak mampu aku konsumsi – karena rasa sakit amat hebat kurasakan ketika menelan makanan. Hingga akhirnya aku tak bisa makan sama sekali, bahkan makanan paling cair sekalipun tak sanggup kutelan. Dan kehidupanku sebagai zombigaret mulai menjelang.

Dan jangan tanya bagaimana kondisi paru-paruku. Hancur lebur tanpa bentuk sejak lama. Aku hampir tak bisa menikmati karunia Tuhan bernama napas. Napas bagiku kini tak lebih dari sebuah siksaan. Napasku pendek dan berat. Bahkan ketika aku sekedar menuliskan diari ini..

Aku tak bisa sembuh. Sudah sangat terlambat untuk berharap bisa sembuh. Satu-satunya cara agar aku bisa sembuh hanyalah dengan memutar waktu kembali, dan berhenti dari merokok sama sekali.

Dulu mimpiku adalah mati dengan tenang di tempat tidur setelah seharian bermain di padang rumput hijau luas sambil tertawa senang dan mengungkapkan rasa sayang serta syukurku pada orang-orang di sekitarku. Bukan mati tersiksa seperti ini.

Tapi toh aku tidak juga mati. Aku kini hanya menjadi sesuatu bernama Zombigaret. Apa kau juga?Aku yang Dulu

Dulu aku seganteng Channing Tatum

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis “Diari sang Zombigaret” sebagai bagian dari kampanye anti rokok.

Kalau teman-teman tertarik bergabung silakan kunjungi:

FB : Zombigaret

Twitter: @zombigaret

 

Sumber gambar:

http://www.groundzeromedia.org/in-my-time-of-dying/

http://magentaradio.uny.ac.id/?p=734

Gober Bebek dan Keberuntungan

“Kekayaan bukanlah milik mereka yang paling beruntung, melainkan yang paling bekerja keras .”

Kira-kira begitulah yang bisa aku simpulkan dari kisah hidup Bebek Paling Kaya di Dunia, Gober Bebek.

Kecuali tinggal di pedalaman yang terpencil, aku yakin semua orang tentunya mengenal Gober Bebek. Semua orang juga tentunya tahu betapa kayanya bebek tersebut yang digambarkan dengan tinggginya tumpukan uang di Gudang Uang miliknya yang dibangun di atas sebuah bukit di kawasan Kota Bebek.

Kerajaan bisnis Gober Bebek terbentang dari kutub utara hingga kutub selatan. Boleh dibilang tak ada satu bidang usaha pun yang tidak dikuasai oleh dirinya. Namun sepertinya sangat sedikit orang yang tahu bagaimana sesungguhnya perjuangan Gober hingga bisa mencapai kondisi demikian.

Tentunya kebanyakan dari kita, pembaca, menganggap bahwa Gober memang sudah tercipta sedemikian kayanya. Seakan kekayaan adalah suatu anugerah yang diturunkan oleh langit. Pun ketika pembaca tentunya tahu betapa pelit sang Bebek ini –bahkan pada keponakan-keponakannya -. Kebanyakan pembaca tentunya menganggap sifat tersebut timbul karena Gober menginginkan agar kekayaannya tidak menghilang.

Kebanyakan pembaca juga tentunya menduga bahwa yang dianggapnya sebagai “keluarga” adalah para keponakannya, Donal, Kwak, Kwik, dan Kwek. Hanya segelintir orang yang benar-benar “membaca” kisah hidup Gober Bebek yang tahu bahwa sesungguhnya dirinya memiliki seorang ayah, ibu, dua adik perempuan, dan sanak keluarga lainnya. Hanya sedikit pula yang tahu bahwa sesungguhnya Gober adalah keturunan terakhir dari Klan McDuck (atau Klan McBebek, dalam Bahasa Indonesia).

Sesungguhnya kisah hidup Gober Bebek ini pernah dimuat secara berseri dalam album Donal Bebek belasan tahun silam. Terus terang waktu itu aku hanya “sempat” membaca beberapa bab saja karena keterbatasan akses informasi (dan minimnya uang jajan sehingga tidak bisa langganan Album Donal Bebek).  Jadi aku tak benar-benar mengerti kisah perjalanan hidup bebek tersebut. Yang aku ingat adalah aku sempat membaca kisah ketika Gober berusaha mempertahankan kastil warisan nenek moyangnya, kisah tentang Gober yang datang ke Kota Bebek untuk membangun gudang uangnya, kisah perjuangan dia menjadi penambang emas di Afrika.

Sebelum aku bercerita tentang kisah hidup Gober Bebek, aku mau bercerita tentang pencarianku untuk mengumpulkan semua bab tentang kisah hidup Gober Bebek.  Selama belasan tahun aku menganggap bahwa satu-satunya cara untuk bisa membaca keseluruhan kisahnya adalah dengan mengumpulkan semua seri album Donal Bebek yang memuatnya. Namun berhubung aku tak tahu jilid berapa saja yang harus aku cari, maka pencarian tersebut hanya menjadi mimpi yang tak pernah benar-benar aku kejar.

Baru sekitar tahun 2010, di sebuah Hypermarket aku melihat  beberapa jilid berjudul “Kisah Hidup Paman Gober”. Menurut penomoran yang tertera di sampulnya, aku menduga bahwa kisah hidupnya terbagi dalam tujuh jilid (tiba-tiba inget Harry Potter :D). Tujuh jilid ada di depan mata! Kisah lengkap kehidupan PAMAN GOBER! Langsung saja keinginan untuk memilikinya menggeliat dalam rongga dada. AKU HARUS MEMILIKINYA! Seruku dalam hati.

Namun sangat disayangkan bahwa ternyata dana tak mencukupi.

Pada akhirnya aku memutuskan untuk menabung agar bisa memilikinya (karena bagaimanapun tentunya memiliki tujuh jilid tersebut bukan sesuatu yang murah). Kalau tak salah ingat, satu jilid harganya sekitar 30 ribu s/d 40 ribu. Maka kuputuskan aku harus menabung gila-gilaan untuk bisa mendapatkanya dlam waktu sebulan.

Namun ternyata butuh lebih dari sekedar uang untuk berjodoh dengan tujuh jilid tersebut, karena saat uang sudah terkumpul buku-buku tersebut telah lenyap bagai asap. Aku pulang dengan hati yang lebih hampa daripada makanan ringan anak-anak.

Meski tak sampai tak bisa tidur karena gelisah, namun tentu saja ketidakberjodohan itu lumayan mengganggu kredibilitasku sebagai seorang pemburu buku. Aku lumayan kecewa dengan kenyataan bahwa setelah belasan tahun menanti, menemukan yang dicari, dan kehilangan bahkan sebelum sempat memilikinya.

Kini pertanyaannya adalah: kenapa aku merasa penting untuk mengetahui keseluruhan kisah hidup Gober?

Jawabannya: walau hanya baca beberapa bab, namun aku menemukan satu sisi lain dari si bebek kikir ini. satu sisi yang membuatnya begitu manusiawi (atau bebekwi) sebuah kisah hidup tentang mimpi dan perjuangan. Dalam suatu bab diceritakan bahwa Gober muda yang mencoba peruntungannya dengan menjadi penambang emas di Afrika saat terjadinya Demam Emas.

Namun alih-alih beruntung, dirinya malah ditipu oleh seseorang yang dia percayai. Betapa marahnya Gober saat mengetahui hal tersebut, kemarahan dia bahkan bisa membuat seluruh binatang buas Afrika bertekuk lutut. Meski pada akhirnya dia bisa mengejar sang penipu dan mengambil semua yang menjadi miliknya, namun Gober belajar satu hal: jangan mudah percaya pada seseorang yang baru dikenal.

Atas dasar itulah aku merasa bahwa suatu saat aku harus bisa mendapatkan kisah lengkapnya. HARUS!!!

Beruntungnya aku (atau sialnya aku) sekitar pertengahan tahun 2012 tanpa sengaja aku melihat satu tumpuk buku berjudul “Kisah Hidup Paman Gober: Edisi Bundel” terpampang di jendela pajang Gramedia. Langsung aku lihat harganya: 160 ribu, lumayan mahal untuk sebuah “komik” tapi sangat muranh untuk sebuah “kenangan”. Seketika itu juga aku memutuskan untuk memilikinya. Tapi tidak dengan membelinya di Gramedia (masalah keenggananku beli buku di Gramedia adalah cerita yang berbeda. Tapi intinya adalah jika amat sangat tidak terpaksa sekali aku takkan beli buku lagi di Gramed)

Selama berbulan-bulan aku berkelana dari satu toko buku ke toko buku lain yang ada di Kota Bandung demi mendapatkannya. Dan tak perlu aku katakan bahwa pencarianku nihil. Memasuki bulan desember aku mulai ragu, “perlukah aku membelinya di Gramedia?” sepertinya Gramed cukup cerdas untuk menjadi distributor tunggal dari seri amat berharga tersebut. Seri yang amat langka dan (mungkin) diburu oleh para penggemar Donal Bebek dkk.

Sekedar menambah kebimbangan, bulan desember pula The Cassual Vacancy edisi bahasa Indonesia terbit. Tentu saja aku sangat menginginkan buku hasil karya salah satu inpiratorku dalam menulis. Tak mungkin aku beli keduanya. Aku harus memilih salah satu!

Pada akhirnya aku membuat sebuah keputusan bijaksana. Tak membeli keduanya hingga bisa membeli keduanya langsung.

Memasuki bulan Januari aku melihat sebuah titik terang. Aku berulang tahun dan Tuan Puteri bertanya apa yang kuinginkan.  Secara jujur aku mengatakan menginginkan Gober Bebek atau Casual Vacancy. Tuan Putri berkata bahwa dirinya tak tertarik mengabulkan salah satu dari keinginanku tersebut. Namun yang tak disadari dirinya adalah aku terlalu mengenal sang Tuan Putri hingga aku tahu pasti bahwa (semoga) dia mau membelikanku Gober atau TCV. Di satu hari yang cerah dia ke Gramedia MErdeka. Dengan berpura-pura ada urusan, Tuan Puteri memintaku untuk berpisah dulu di kawasan BIP selama beberapa waktu.

Tanpa bermaksud menyombongkan diri, aku yakin dia bermaksud membeli buku di Gramedia. Dugaanku bertambah tebal saat tas yang dia bawa seketika saja bertambah “gendut” selepas perpisahan kami.  aku yakin Tuan Puteri membelikanku salah satu dari dua buku yang kusebutkan. Namun buku yang mananya aku tak tahu.

Demi keamanan, aku memutuskan untuk menunggu 14 januari sebelum membeli apapun dengan alasan kemanan (kan tak lucu kalau aku beli yang dia beli juga).

Hari senin kemarin akhirnya misteri tersebut terjawab. Meski aku tahu Tuan Puteri membelikanku buku yang aku mau. Tetap saja aku merasa sangat terharu ketika membuka bungkus kado. Kisah Hidup Paman Gober tiba-tiba saja ada di pangkuanku. Sebuah buku yang aku tunggu lebih dari 15 tahun akhirnya bisa kumiliki.

Terima kasih, Tuan Puteri. Terima kasih atas kado indah yang telah kau beri padaku… (namun tentu saja kado terindahnya adalah dirimu yang tercipta (semoga) untukku. mencintaimu adalah keberuntungan terbesarku.)”

TAMAT

Ps: untuk isi bukunya akan kujabarkan dalam postingan yang lain. Seminggu lagi. 😀

Tumbuh Bersama Harry

Seperti biasa, lagi “bersih2” harddisk nemu tulisan random….

~^Baca Selengkapnya^~

Catatan Cinta

Catatan ini sudah cukup lama mengendap di Facebook, atas permintaan Mbak Ely aku posting disini… 😀

 
~^Baca Selegkapnya^~

Konferensi Untuk yang Terluka Karena Cinta

Diterjemahkan secara bebas dari blog salah satu pengarang favoritku

judulnya: Convention for those wounded in love

(linknya: http://paulocoelhoblog.com/2012/02/23/wounded-in-love-2/)

 

Kesepahaman Umum

A- Jika dikatakan bahwa “semua sah dalam perang dan cinta,” hal tersebut adalah benar

B- Jika dalam perang kita memiliki Konferensi Genewa, yang disahkan tanggal 22 agustus 1864, yang menjamin keselamatan bagi mereka yang terluka di medan perang, namun hingga kini tak ada satupun konferensi yang ditandatangani berkaitan dengan mereka yang terluka karena cinta, padahal jumlahnya jauh lebih besar.
~^Baca Selengkapnya^~

Cinta Tak Seharusnya Terlambat

Diterjemahkan secara bebas dari

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=265240926898666&set=a.169164629839630.40168.169143726508387&type=1

Istriku selesai menyiapkan makam malam ketika aku pulang malam itu, aku menggenggam tangannya dan berkata, “ada yang ingin aku katakan.” Dia duduk dan makan tanpa berkata apapun. Sekali lagi aku meihat kekecewaan di matanya. ~^Baca Selengkapnya

Kancut Fiaz

Upz… Maksudnya Peer Fiaz… 😀

berhubung yg ngasi peernya cowok tanpa kancut Fiaz. jadi nulis ini juga musti pake gaya dia nulis. sooo… monggo di leueut…

gue sempet-sempet bingung juga ni cowok (?) tiba-tiba ngasi peer ke semua folowernya yg berjumlah 500++ (gak percaya). pertanyaan-pertanyaannya juga ga kereatip masak cuman lima? kenapa gak lima puluh? ato lima ratus sekalian? kan enak nolaknya juga!

tapi sebagai Orang Timur yang penuh tenggang rasa, gue mau ga mau musti menuhin permintaan cowok (?) itu. jadi gue coba jawab deh satu satu!

ini dia :
1. kenapa lo ngeblog di WP kan blog lain banyak?
Jawab: Suka suka gue dong! emangnya lo sapanya gue? ketemu aja di perempatan jalan pas lo mangkal kagak! lo suka mangkal dimana sih?
kalo kata gue sih pastinya lo pake wordpress karena banyak widget ma tema-nya kan? soalnya gue juga gitu.  

2. apa sih keinginan lo dari kecil, trus kesampean ga?
jawab: mau tau aja! emangnya lo punya keinginan apa waktu kecil? ganti kelamin ya?
lo kan gak perlu tau kalo gue itu dulu pengen jadi insinyur. agak gedean dikit gue pengen jadi penulis. lo juga gak perlu tau kan kalo tulisan-tulisan gue sekarang jarang mejeng di majalah ma koran-koran?  


3. blog lo fokusnya sama apa sih? trus apa udah punya ciri khas?
jawab: Menurut lo? emang lo ga liat apa kalo isi blog gue fiksi-fiksi gak jelas. yang sebenernya gak layak baca buat siapapun. soalnya fiksi-fiksi gue yang bagus en bermanfaat pasti gue kirim ke koran, majalah, tabloid, dll biar jadi duit!! ahaha… lo gak tau kan!?
ciri khas? satu satunya ciri khas gue adalah blog gue cuman satu-satunya di dunia ini!
4. lo kenal gue (fiaz) dari mana?, trus orangnya gimana? kalo pengen lihat wajah gue bisa cek di post pemotretan
jawab: yang jelas gue kenal lo bukan dari perempatan jalan tempat lo biasa mangkal. gue pikir sih lo lebih cocok jadi cewek. kasian gue sama banci-banci yang laen. idupnya gak bahagia kalo lo masih ambigu gitu.
5. post postnya fiaz bagus ga sih? mulai dari tata bahasanya, pemilihan kata, ceritanya. trus si fiaz punya ciri khas ga?
jawab: menurut lo gue masih mau baca kalo tulisan lo gak bagus sama menghibur? menurut lo gue masih mau baca kalo bahasa yang lo pake itu bikin gue pusing trus masuk rumah sakit? menurut lo juga kisah lo itu gak bisa bikin gue berhenti ngakak trus punya semangat buat ngelanjutin idup. menurut lo cowok(?) cantik kayak lo pasaran sampe gak bisa dijadiin ciri khas?

mungkin konferensi pers dari saya dicukupkan sekian. atas perhatian dan kerjasama Bapak Fiaz, Saya ucapkan terima kasih.

Sahabat yang didatangkan Tuhan

Ungkapan pertama yang sepatutnya aku ucapkan sekarang adalah betapa bersyukurnya aku diberi kesempatan untuk menghirup napas di dunia ini oleh sang Seniman Agung…

ungkapan kedua adalah aku sangat bahagia bisa berjalan diabad 21 ini. dengan segala kemudahan (dan tantangan) yang disajikan.

ungkapan ketiga adalah aku kehabisan kata untuk mengungkapkan betapa bahagianya bisa kenal dengan kalian, sahabat blogku (Iya, Kamu yang aku maksud!)

di dunia sepi yang penuh warna ini aku bisa tertawa, menangis, marah, serta entah berapa ratus perasaan yang dikenali maupun tidak telah hinggap dalam hatiku… karena kamu, Sahabat Yang didatangkan Tuhan buatku.

aku teramat senang. meski baru mengenal kalian beberapa bulan, minggu, atau bahkan hanya hari. namun aku merasa telah mengenal kalian berabad-abad lamanya. kalian bagaikan para teman yang selama ini aku nantikan kehadirannya… andai saja aku percaya reinkarnasi, tentu aku akan berkata bahwa kita adalah sahabat di kehidupan sebelumnya…

beberapa sahabat memberikan senyuman kala aku resah dengan kehidupan.
beberapa sahabat memberiku cerita indah kala aku tersesat..
beberapa sahabat memberiku  semangat kala aku terpuruk.
namun semua sahabat sepakat memberiku makna bahwa hidup begitu sempurna dalam ketidaksempurnaannya…

kita hanya kenal lewat kata, bahkan aku tak yakin itu adalah nama kalian sesungguhnya, wajah kalian hanya kuhapal lewat selembar foto yang kadang buram atau terlampau kecil. namun aku yakin bahwa kita tetap sahabat….. kalian adalah harta dalam hidup…

aku takkan menyebut nama, karena kamu lebih  berharga daripada sekedar nama yang terangkai dalam paduan 26 huruf.
saat kamu baca ini, artinya adalah kamu yang sedang aku maksud. tak perlu bertanya-tanya mengenai siapa. karena aku menulis ini untuk berterima kasih padamu yang telah memberiku arti hidup. TERIMA KASIH SAHABAT. Semoga persahabatan ini langgeng hingga akhir hayat…

Inti tulisanku adalah:
emailku menunjukan saat ini ada sekitar 200 email yang belum kubaca (email tentang pembaruan tulisan di blog sahabat sekalian)…
karena satu hal dan yang lainnya, aku belum sempat untuk mampir ke sana. jangankan membaca tulisan, mampir saja aku hampir tidak bisa… maka aku harap kalian mau memaklumi kalau aku jarang memberi jejak. bukan aku tak mau, aku hanya tak bisa…
kalau urusanku sudah beres, Insya Allah aku akan datang bersilaturahmi ke rumah (pondok, gubuk, pojok, atau apapun istilah yang kalian kehendaki untuk blog) kalian…
jangan rindukan aku. biarkan aku saja yang tersiksa karena merindukan sahabat2 yang didatangkan Tuhan.

gak lama kok… awal april juga sudah beres (dan kuduga emailku sudah membengkak jadi 3000 pesan yang belum terbaca)

😀

Manusia Dibalik Kata

Namaku Anggoro Wicaksono. Siapapun diseluruh dunia ini tentunnya mengenalku. Aku adalah seorang penulis, yang jika menerbitkan novel pastilah berada pada jajaran best seller, pasti dan tak pernah tidak. Buku-bukuku telah diterjemahkan kedalam hampir semua bahasa tertulis yang dikenal manusia. Aku terkenal? Tentu saja! Jika ada yang tak mengenalku, tentunya dia hidup jauh di dalam gua di antah berantah! Dan kalian yang sedang membaca surat ini mengenalku, kan?

Anggoro Wicaksono adalah seorang penulis brilian. Hampir segala hal diketahuinya. Agama, filsafat, ekonomi, politik, budaya, kesehatan, hukum, tinggal sebut, dan aku tahu masalah tersebut. Kalian dapat mengetahui luasnya pengetahuanku dari buku-buku yang telah kutulis (dan aku harap kalian sudah membacanya). Karena bagaimanapun sebuah buku adalah cerminan dari pengalaman pribadi penulisnya. Jika bukunya cerdas, apalagi penulisnya. Dan sayangnya bukuku selalu mendapat pujian sebagai buku yang cerdas. -^Baca Selengkapnya^->

Pendidikan dan Semangat

            Kamus Besar Bahasa Indonesia mendifinisikan Pendidikan sebagai; n,  proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik;  (KBBI Daring: 2008). Sedangkan “didik” atau “mendidik” didefinisikan sebagai; v, memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. (KBBI Daring: 2008).

            Dari kedua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa seorang Pendidik, yaitu orang yang mendidik, adalah seseorang yang tugasnya memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran sebagai cara untuk mendewasakan manusia. Masih banyak definisi yang bisa saya jabarkan berkaitan dengan latihan, kecerdasan, maupun pendewasaan. Namun secara mudahnya kamus tersebut memberi gambaran yang sangat jelas bahwa arah pendidikan bukanlah “transfer pengetahuan” melainkan “transfer kebijaksanaan”.

^~Baca Selengkapnya~^

Post Navigation