Kabut Pikiran

Pikiran bagaikan kabut yang menghilang jika tak diabadikan dalam kata

Archive for the category “novel”

[Ebook] Melacak Jejak Cinta

Seperti yang aku janjikan, novel yang dibikin bersambung (dan gak ada yang mau baca) ini aku jadiin Ebook….
semoga berkenan…..

klik disini untuk membaca Melacak Jejak Cinta

Melacak Jejak Cinta #14

Bab pamungkas!!!! setelah sekian lama akhirnya tamat juga….
dua minggu lagi aku bikinin ebook-nya + Epilog
(kenapa harus dua minggu? Jawabannya: RA-HA-SI-A… hehe)

selamat menikmati…..

 Sebelumnya baca dulu  #1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9 #10 #11 #12 #13

 

Episode 14

Akhir Perjalanan

 

Davin memarkirkan mobilnya di pelataran parkir rumah sakit. Kucangklongkan ransel ke punggung dan keluar dari mobil, Davin mengikutiku keluar. Dia memandangku. ~^Baca Selengkapnya^~

Melacak Jejak Cinta #13

Wew…. tinggal beberapa bab lagi….

Sebelumnya baca dulu  #1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9 #10 #11 #12

Episode Tiga Belas

Monolog Dua Jiwa

 

“Ya… cepetan bangun!” Suara cempreng mengganggu mimpi indahku menjadi astronot, “lihat keluar. Ada pelangi!” ~^Baca Selengkapnya^~

Melacak Jejak Cinta #12

Sebelumnya baca dulu  #1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9 #10 #11

Episode Dua Belas

Mesin Waktu

“Sudah berapa kali kamu ke rumah Chandra?” Tanya Kania diantara deru angin yang ditimbulkan oleh motor Thunder yang dipacu kencang.

“Gak pernah.”

“Sudah kuduga.”

Aku selama ini belum pernah kerumah Chandra karena tiga alasan. Pertama adalah meski masih tergolong Bandung, rumah Chandra jauh berada di pelosoknya; kedua adalah aku tak melihat adanya alasan aku harus datang ke rumahnya; ketiga karena Chandra tak pernah mengajakku ke rumahnya.
~^Baca Selengkapnya^~

Melacak Jejak Cinta #11

Sebelumnya baca dulu  #1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9 #10

Episode Sebelas

Kenyataan Sekarang

Sebuah ruangan luas  dengan kulkas, TV berukuran besar, sofa, lemari kecil. Ruang perawatan ini lebih mirip hotel kecil, kecuali bahwa satu-satunya ranjang yang ada di ruangan itu adalah ranjang beroda, seseorang terbaring disana. Beragam kabel dan selang menancap di tubuh Chandra. 2 atau 3 jenis alat menyala, entah menunjukan apa.
~^Baca Selengkapnya^~

Dusta-Dusta Cinta

jangan tanya mana bab 1 sampai bab 12-nya!! karena emang belum dibikin… ahahaha
aku langsung nulis bab klimaksnya… semoga bisa dinikmati…

 

Bab 13
Dusta Ketiga Belas

Aku berlari dan terus berlari tanpa benar-benar kupedulikan arahnya. Semua hal yang telah kami lewati berkelebat bagai ratusan pesawat jet dalam kepala. Awal pertemuan, kata cinta, ciuman, lamaran, pernikahan, bulan madu… semua itu bagaikan mimpi indah. Kini aku telah terbangun. Yang kuhadapi saat ini adalah sebuah kenyataan. SUAMIKU TELAH BERDUSTA!! ~^Baca Selengkapnya^~

Melacak Jejak Cinta #10

mendekati klimaks!!!… (tapi tetep aja gak ada yang mau baca)

Sebelumnya baca dulu  #1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9

Episode Sepuluh

Bukan Jawaban

 

Senpai…” Sebuah suara membangunkanku. Kulihat sebuah wajah dari masa lalu.

“Sori udah ngerepotin kamu.” Adit menyodorkan sekaleng kopi susu yang kuterima demi kesopanan.

“Via ada di ruangan sebelah.” Kataku sambil mengucek mata.

“Aku udah liat. Dia lagi tidur.” Adit meletakan sebuah ransel bepergian berwarna biru laut, “kulihat kondisi Via baik-baik saja.”

Adit mengatakan itu seakan bersyukur kondisi Via tak lebih buruk dari pada dugaannya. Adit berusaha tak memperlihatkan wajah terpukul dengan kenyataan bahwa mereka telah kehilangan bayi yang sedang dikandung Via.

“Mungkin memang itu yang seharusnya terjadi.” Ujarnya.

Aku hanya menunduk, tak tahu harus mengatakan apa.

“Lahir, jodoh, mati. Semua sudah diatur oleh yang Maha Kuasa. Kita hanya bisa menjalaninya.” Mata Adit menerawang malam yang terbiaskan oleh cahaya lampu seolah mengatakan itu untuk dirinya sendiri, “apa yang kita inginkan belum tentu apa yang sebenarnya kita butuhkan. Tuhan tahu yang terbaik untuk kita.”

Lama kesunyian mengisi percakapan kami. ~^Baca Selengkapnya^~

Melacak Jejak Cinta #9

Posting lagi (dan masih gak ada yg mau baca T_T)….

Sebelumnya baca dulu  #1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8

Episode Sembilan

Mempertanyakan Arti

 

Aku berdiri di sebuah tempat luas. Semuanya berwarna putih dan terang. Dari arah belakang kudengar suara langkah kaki, kubalikan badan dan perlahan sebuah sosok mendekatiku. Chandra tersenyum.

“Kirana, sudah kuduga kau akan datang.” Ujar Chandra. ~^Baca Selengkapnya^~

Melacak Jejak Cinta #8

Sebelumnya baca dulu  #1 #2 #3 #4 #5 #6 #7

Episode Delapan
Menantikan Seseorang

8 Desember 2006
Aku dan Chandra baru selesai menonton sebuah film Hollywood. Film konyol tentang kehidupan keluarga di Amerika. Chandra mengajakku makan di fastfood dekat bioskop.
“Tahukah kamu? Sebetulnya duta-duta kebudayaan bukanlah para duta-duta besar yang berpesta semalam suntuk ataupun ratu-ratu kecantikan yang terlalu banyak senyum. Ada banyak duta kebudayaan yang tak kita sadari. Dari tangan-tangan merekalah kita bisa memahami kebudayaan asing, ataupun orang asing memahami kita. Mereka adalah para penulis dan penerjemah. Kebudayaan asing lebih cepat masuk dalam masyarakat atas campur tangan mereka. Merekalah jembatan penghubung dua bangsa.” Ujar Chandra.
Aku tak terlalu memikirkannya. Kuanggap itu ceracau Chandra yang biasanya, tak bermakna.
~^Baca Selengkapnya^~

Melacak Jejak Cinta #7

Sebelumnya baca dulu  #1 #2 #3 #4 #5 #6

Episode Tujuh

Setelah Bencana

 

Si pria balik menatap anaknya yang melihat dengan pandangan ingin tahu. Api unggun memisahkan mereka berdua.

“Ayo, Ayah. Ceritakan lagi soal bumi sebelum bencana. Ceritakan soal mobil, pesawat, komputer.” Mata anaknya berbinar. Tak mungkin dia dapat menolak keingintahuan sang anak.

Kemudian si pria menceritakan kembali kisah yang sudah diulangnya berkali-kali pada sang anak yang tak pernah bosan.

“Dahulu kala di bumi ini ada ratusan negara berdiri. Beberapa diantaranya kuat, sementara banyak sisanya yang amat lemah sehingga harus banyak dibantu. Negara-negara kuat berlomba-lomba mengusai negara-negara lemah, baik secara halus maupun kasar. Mereka membuat alat-alat yang sangat canggih, yang katanya bisa memudahkan kehidupan. Beberapa diantaranya memang banyak membantu dalam peradaban manusia, beberapa yang lainnya disalahgunakan untuk menghancurkan. Semua itu berjalan terus menerus hingga akhirnya harus berakhir oleh sebuah bencana .”
~^Baca Selengkapnya^~

Post Navigation