Kabut Pikiran

Pikiran bagaikan kabut yang menghilang jika tak diabadikan dalam kata

Archive for the category “resensi”

Haru No Tabi (sebuah ulasan ngalor ngidul)

Jujur, aku gak pernah bener-bener bikin “resensi” buku. tapi entah kenapa untuk kali ini aku pengen banget ngasih ulasan *ngalor-ngidul* tentang Haru no Tabi karya Gyna Amanda Putri. terus entah kenapa pula aku pengen bikin resensinya dalam bentuk percakapan antara Akira dan Ashiya (buat yang belum tahu siapa mereka, sebaiknya segera baca Seishun No Tabi karya Tangguh Alamsyah -promosi terselubung- :D)

tanpa ba-bi-bu-be-bo lagi, ini dia…..2294_Haru-no-Tabi-web

**

Ashiya     : Nee, Watanabe-kun… kenal Hisano Hayashi gak?

Akira        : Sudah dibilang jangan panggil aku Watanabe!! Akira!! A Ki Ra!

Hayashi? bukan nama yang gak umum tuh di Jepang. Emang kenapa?

Ashiya     : hehe… kenapa juga gak mau dipanggil Watanabe? itu kan nama keluargamu.

katanya sih dia cucu bungsu dari keluarga Hayashi, pengusaha futon terbaik di jepang.

Masa sih gak kenal? Akira kan tinggal di Tokyo.

Akira        : Memangnya Tokyo itu kota kecil apa? memangnya kayak Arita!? Dusun tempat tinggalmu itu.  Memangnya kenapa dengan Hisano?

Ashiya     : Dia kabur dari rumah selama 5 hari demi cinta pertamanya! Demi senpai yang dia cintai secara diam-diam… fufu. Manis sekali.

Akira        : Senpai? Cinta dalam hati? Sepertinya familiar deh. Hehe

Ashiya     : Apa!? Mau ngungkit soal aku yang naksir Kageru-senpai?

Tapi ceritanya beneran manis loh. Hisa-chan ini naksir sang Senpai sejak hari pertama dia masuk SMU. Dia pertama suka gara-gara lihat Toshi-san, senpainya itu megang bunga sakura di taman sekolah. Sempet foto, trus Toshi-san dengan judesnya minta foto itu dihapus. Bukannya kapok, Hisa-chan malah makin suka sama sang Senpai.

Akira        : Trus, lima hari Hisano ngapain aja?

Ashiya     : Nah ini yang menarik. Hisa-chan rencananya kabur dari rumah karena ingin membuntuti Toshi-san. Tapi karena suatu kejadian tak terduga akhirnya sang Senpai memergoki kegiatan Hisa-chan.

Dan tahu tidak!? Ternyata Toshi-san juga kabur dari rumah!! Hehe.

Akira        : Lalu?

Ashiya     : Mereka akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalanan keliling Jepang bersama-sama.

Akira        : Aku tak menemukan ada yang hebat dari kegiatan itu. Bukankah tempo hari kita juga keliling Jepang? Lebih seru malah. Ada perburuan harta, belajar sejarah, juga melarikan diri dari pembunuh berdarah dingin.

Ashiya     : Tapi… mereka sempat masuk kastil Osaka loh… waktu itu juga aku kan sebenarnya berharap kita bisa kesana. Tapi Kakek malah menyuruh kita pergi ke daerah selatan nonton lawak.

Dan cara Hisano bercerita tentang kastil Osaka benar-benar membuatku iri. Ceritanya sangat bagus dan rinci. Aku-mau-ke-sana-!!

Akira       : Oke. Aku paham. Kamu tak akan bakalan membiarkanku tidur dalam kereta kali ini sebelum kamu puas bercerita. Jadi, silakan cerita. Yang penting-penting saja. Karena aku mau tidur.

Ashiya     : Hehe… yang jelas rute mereka agak berbeda dengan kita. Dan karena tidak diburu waktu jadi perjalanannya juga sangat santai. Mereka benar-benar berwisata. Pemandangan dan suasananya cukup detail dan menyeluruh. Cara Hisa-chan dan Toshi-san bercerita tentang hal-hal yang terjadi selama perjalanan benar-benar manis. Jujurnya diksi yang mereka gunakan lebih “lembut” dibandingkan caraku bercerita.

Cara Toshi-san menggambarkan partnernya membuatku ingin mengenal dirinya lebih dekat. Andai saja aku bisa sekolah di tempat yang sama. Tentunya Kageru-senpai akan memiliki saingan sangat berat. Toshi-san  itu kalem sekali saat menggambarkan Hisa-chan sebagai orang yang hiperaktif sekaligus kikuk. Aku benar-benar gemas saat membaca narasinya.

Lalu Hisa-chan juga sangat pandai bercerita.  Alasan Hisa-chan menyukai Toshi-san digambarkan dengan sangat detail tanpa terburu-buru. Menjadikan aku bisa membayangkan dengan sempurna sekaligus menyetujui pilihan Hisa-chan.

Jalinan ceritanya juga sangat ringan, sangat mudah ditebak, tapi juga sangat tak mungkin untuk berhenti membacanya sebelum seluruh kisah mereka diikuti. Kata-demi kata aku baca tanpa dilewatkan satu pun. Dan itu sesuatu yang jarang aku lakukan.

Akira        : Sudah? Boleh aku tidur sekarang?

Ashiya     : Beluuuum…. Akira musti baca juga!

 #

seperti yang aku bilang, ini bukan resensi. jadi maaf buat sang penulis kalo jadinya random. 😀
btw, beneran ini novel bagus kok. materinya matang meski (katanya) ditulis tanpa riset. 

Iklan

Post Navigation