Kabut Pikiran

Pikiran bagaikan kabut yang menghilang jika tak diabadikan dalam kata

Archive for the category “Skenario”

Di Depan Persimpangan Jalan (交差点前)

Masih sekenario adaptasi dari manga karya Adachi Mitsuru yang berjudul 交差点前 (kousaten mae) dalam kumpulan komik Short Program…
kamu harus baca komiknya! seru luar biasa!!

 

01. Ext. Jalanan-sore

Surya, pria, 20 tahun, sedang berjalan. Dari arah yang berlawanan datang Kirana, wanita, 20 tahun. Mereka berjalan terus hinggga berpapasan, Surya melirik sekilas. Keduanya tidak menghentikan langkah masing-masing. Bersimpangan, setelah jarak yang dibuat cukup jauh, Surya menghentikan langkah, memandang sosok Kirana, melihat jam.

Surya

会う
Pas

Dari belakang Surya, Muncul Chandra, pria, 20 tahun.

Chandra

何か

Apanya?

Surya kaget, cepat-cepat menunjuk sepatunya.

Surya

今日の買った靴が合う

Sepatu yang kubeli hari ini ternyata pas

Chandra

そうか

Oh begitu?.

じゃ、アルバイトの給料はもうもらったね

Berarti kau sudah dapat honor kerja sambilanmu, ya?

Menyadari hal yang akan terjadi, Surya segera lari. Namun Chandra dapat segera mengejarnya. ~^Baca Selengkapnya^~

Dorotdot Motor Jabelan

memperingati hari Bahasa Ibu tiap rabu… kali ini aku iseng bikin sekenario film bahasa Sunda… semoga bisa dinikmati 😛

01. Int. Kamar Dadang – pagi

Dadang, 40 tahun, mematut diri di depan cermin sambil bersenandung.

Dadang
Dorotdotan
Sora motor ti kajauhan
Hate kuring sesebitan
Pasti eneng geulis anu datang

Masuk Lastri, 18, membawa kemeja yang baru disetrika, melanjutkan senandung Dadang asal-asalan

Lastri
Pas liat ke belakang
Istri molototan
Dasar mata keranjang!
Apa aku masih kurang!?

Dadang membalikkan badannya, senyum-senyum seperti anak yang ketahuan telah melakukan kenakalan.

Dadang
Eh, Mamah…
Papah kan cuman nyanyi
Bukan maksudnya mau nyari lagi, kok.

Lastri menyurungkan kemeja pada Dadang, yang kemudian memakainya.

Lastri
Terserah!!
Lelaki dimana aja sama!!

Dadang
Aduh Mamah,
Jangan sososrongot kayak gitu atuh
Gak mungkin Papah lurak-lirik deui
Pokona mah Mamah is de bes lah

Lastri melenggang pergi keluar kamar. Untuk sesaat Dadang tercenung melihat pintu tempat keluar Lastri. Dadang melanjutkan mematut diri sambil bersenandung, kali ini tanpa lirik.

02. Int. Ruang Tengah – Pagi

Lastri sedang membaca majalah wanita di sofa. Dadang yang telah rapi masuk.
Dadang mengintip meja makan.

Dadang
Mamah kok belum masak?
Papah kan musti dapet cukup gizi biar kerjanya full

Lastri
(tanpa mengalihkan pandangan dari majalah)
Papah juga belum ngasih Rasiko
Mana bisa Mamah bikin dapurnya ngebul?

Menyadari bahwa dia kalah dalam perdebatan, Dadang memakai sepatunya. Mengeluarkan motor ke teras. Bersiap berangkat.

03. Ext. Teras – pagi

Dadang yang hendak melajukan motornya tiba-tiba dipeluk Lastri.

Lastri
Papah hari ini gajian, kan?
(manja)
Mamah liat barang bagus nih di majalah

Dadang
Iya, Iya
Papah ngerti

Setelah Lastri melepaskan pelukannya, Dadang segera saja melajukan motornya. Meninggalkan debu yang beterbangan di belakangnya.

Lastri tersenyum puas

~^Baca Selengkapnya^~

Gempa Skala 4 (震度4)

Skenario ini diadaptasi dari manga berjudul 震度4 dalam kumpulan komik “Short Program” karya Adachi Mitsuru
(aku melakukannya karena ngefans banget sama beliau, mudah2an tidak dianggap plagiat)

 
~^Baca Selengkapnya^~

Skenario MIA

01. Ext. Taman Bacaan – Sore

Mia dan Ari duduk berhadap-hadapan di kursi sebuah taman bacaan. Keduanya terlihat gugup. Ari memegang tangan Mia.

Ari

Mia, Aku suka Kamu

Mia

Aku tahu kok

Ari

Begitu banyak waktu yang kita habiskan berdua. Seperti kebun binatang, datang ke ulang tahun bintang, Braga, mengobrol hingga pagi. Dan aku ingin kita bisa menghabiskan waktu bersama lebih banyak lagi.

Mia

Iya, Aku juga senang jalan bareng Kamu

Ari

Kalo gitu, Mau gak jadi cewekku?

Mia

Sebenernya Aku mau banget. Tapi aku bukan cewek, namaku Iskandar.

02. Int. Kamar Ari – Pagi

Ari terbangun dengan kaget. Ari melihat jam, sudah pukul 05.30. Ari memutuskan bangkit dari tempat tidur. Keluar kamar, mandi, berpakaian, keluar kamar untuk ke kampus. Sebelum berangkat Ari Sempat beberapa kali bercermin.

Terakhir bercermin, Ari tersenyum. Dan langsung berangkat.

Vo. Ari

Namaku Ari, Usia 18 tahun. Mahasiswa Sastra tingkat pertama. Tak ada hal yang istimewa yang berkaitan dengan diriku. Well, sebenarnya saat ini ada yang istimewa. Namanya Mia, Takdir mempertemukan kita di kampus. Apakah Takdir akan mengikat kita lebih jauh? Tak sabar tuk cari tahu.

03. Int. Kelas – Pagi

Kelas yang ribut karena tak ada dosen.

(Cat: Di papan tulis ada pengumuman “Tidak ada Dosen”)

Bintang tertawa mendengar cerita Ari.

Bintang

Jadi, lo takut dia jadi cowok?

Ari

Bodoh! Tentu saja tidak. Intinya adalah apakah Gua perlu bilang perasaan Gua ke dia?

Bintang

Menurut lo bagusnya gimana?

Ari

Eh.. malah nanya?!

Harusnya Gua yang nanya!!

Bintang

Bilang aja!

Ari

Tapi gimana?

04. Ext. Halaman Kampus – Pagi

Bintang dan Ari jongkok bersisian di halaman kampus. Muka keduanya sedang bingung. Berkali-kali Ari menghembuskan asap rokok tenggelam dalam dimensi pemikirannya. Bintang menopang dagu dengan kedua tangannya.

Seorang wanita lewat, dia memegang cermin, merapihkan rambutnya dengan bantuan cermin.

Ari berbisik pada Bintang. Bimo berlari mendekati sang wanita.

05. Int. Lorong Kampus – Siang

Ari berdiri menyandar pada dinding. Berkali-kali melihat jam. Jelas dia sedang menunggu seseorang. Yang dia tunggu akhirnya datang. Ari mematikan rokoknya, dan langsung menghampiri Mia.

Ari

Hmm.. Hari ini ada janji ga?

Mia

Sebenernya sih gak ada. Emang kenapa?

Ari

Kita jalan-jalan yuk?

Mia

Kemana?

Ari

Kemana aja, Aku pengen ngabisin waktu Aku sama Kamu. Mia berpikir sejenak, Lalu mengangguk.

06. Ext. Jalan – Siang

Ari dan Mia jalan bersisian. Keduanya terlihat ngobrol dengan asik. Berkali-kali Ari merogoh saku celananya.

07. Ext. Taman – Siang

Ari dan Mia duduk berduaan di satu bangku taman, kelelahan. Ari menyodorkan air minum pada Mia. Mia mengambilnya. Ari menyalakan rokok. Mia memerhatikannya.

Ari

Gak apa-apa kan Aku ngerokok

Mia

Bukan masalah untukku.

Tapi, ngerokok gak sehat loh

Ari

Tapi orang terakhir yang ngingetin Aku cuma pacarku yang dulu

Mia

Jadi mau aku ingetin nih?

Ari

Kalau kamu mau

Keduanya tertawa. Lalu diam, hanyut dalam pikirannya masing-masing. Ari mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Tapi Mia keburu ngomong. Ari memasukkan lagi.

Mia

Panas ya?!

Ari

Iya. Siang sih.

Aku tahu tempat yang bagus. Yuk

Ari menarik tangan Mia. mereka pergi meninggalkan taman.

08. Ext. Taman Bacaan – Sore

Mia tertawa lepas karena membaca sebuah komik. Ari senang melihat Mia tertawa.

Mia

Lihat ini

(Menunjukan satu panel pada Ari)

Konyol banget

Hahaha…

Ari

Emang sih..

Ari teringat mimpinya.

Ari

Emm.. Mia, boleh nanya ga?

Mia

Boleh.. boleh.. boleh..

(Membaca komik) Hahaha.. Ada apa?

Ari

Kamu cewek kan?

Mia

(Memandang Ari dalam)

Sebenernya Aku Iskandar.. Hehe..

Pertanyaan bodoh! Ya iya lah Aku cewe..

Mau bukti?

(Tersenyum)

Mia berdiri, berpura-pura akan membuka pakaian.

Ari

Stop.. Bukan gitu

Mia

Terus apa?

Ari

Cuman pengen ngeyakinin aja.

Mia

Kenapa sih nanya-nanya?

(Sambil duduk)

Ari akan mengeluarkan barang dari sakunya.

Ari

Mia.. Sebenernya..

Tiba-tiba Handphone Mia berbunyi. Mia mengambilnya.

Mia

(Ke Ari)

Tunggu ya!!

(Ke Handphone)

Halo? Iya ma.. Mia lagi sama temen..

Bentar lagi pulang, lagi tanggung nih..

Iya.. iya.. iya.. Mia pulang sekarang.

Mia menutup Handphone. Memandang Ari dengan Ekspresi minta maaf. Ari mengangguk, mereka bangkit.

09. Ext. Jalanan – Sore

Mereka menunggu Angkot. Ari murung seperti menyesali sesuatu. Mia menyadarinya.

Mia

Ada apa?

Ari

Aku lagi bingung nih

Mia

Bingung Kenapa?

Ari

Aku lagi suka sama satu cewe

Mia tersenyum senang. Tapi pura-pura tak peduli

Mia

Terus?

Ari

Tapi aku gak tau perasaan dia ke aku

Mia

(PeDe)

Kenapa gak tanya aja?

Ari

Iya sih.. terus, tadi pagi aku di kasih fotonya sama dia.

Mia kecewa. Karena dia tadi pagi tak pernah memberi foto

Ari

Mau ngeliat fotonya ga?

(Merogoh saku)

Mia

(Bimbang)

Gak ah.. Takut

Ari

Kenapa harus takut?

Mia

Gak kenapa-napa

Ari

Ya udah kalo gak mau liat

(Memasukkan lagi)

Mia

Eh, mau lihat deh.

Ari

Yakin?

Mia

Gak yakin sih. Aku cuman penasaran aja

Ari

Ya udah kalo gitu

(mengeluarkan fotonya)

Tapi jangan kaget ya

Mia

Mudah-mudahan aja nggak.

Ari menyerahkan bingkai foto.

Mia

Niat amat di bingkai?! Padahalkan baru pagi tadi dapetnya

Ari

Soalnya orang itu istimewa banget

Mia

Oh..

Mia mengambil bingkai itu. Membaliknya dan tertegun Mia melihat wajah nya sendiri dalam cermin bertuliskan “Be My Angel”

Ari

Jadi kira-kira dia mau gak jadi pacarku?

Mia

Kalau kata aku sih.. Kayaknya dia mau deh

(Tersenyum pada Ari)

Soalnya dia punya perasaan yang sama pada Ari

Ari

Syukurlah

Ari memeluk Mia. Keduanya bahagia.

Post Navigation