Kabut Pikiran

Pikiran bagaikan kabut yang menghilang jika tak diabadikan dalam kata

Archive for the month “Juni, 2017”

Ustaz Rizieq

Semua orang di kampung kami menyebutnya Ustaz Rizieq. Dia orang terpandang, tentu saja. Beliau adalah sosok inspiratif. Tak sedikit warga kampung yang diangkat derajatnya oleh Pak Ustaz Rizieq.
Pekerjaan sehari-hari Ustaz Rizieq tentu saja mengajar agama. Kami bisa dengan mudah menemui beliau pada saat subuh di mesjid mengisi kuliah subuh untuk bapak-bapak, pagi hari di SD dan SMP kampung, sore di mesjid dalam kegiatan pengajian ibu-ibu, dan selepas maghrib waktunya anak-anak belajar membaca alquran.
Sudah hampir 10 tahun Ustaz Rizieq menjadi pemandu utama dalam bidang keagamaan. Mungkin sudah ratusan orang yang tercerahkan berkat beliau. Pikiran, ucapan, dan tindakan Ustaz Rizieq adalah kebaikan. Tak satupun cela yang pantas hinggap dari dirinya.
Ustaz Rizieq adalah panutan. Semua orang tanpa ragu akan mengamininya.
Maka ketika pada suatu hari tersiar bahwa Ustaz Rizieq telah melakukan tindakan tidak senonoh pada salah satu gadis belia, Nunung, seisi kampung menjadi geger karenanya.
Menurut kabar, salah satu teman Nunung menyaksikan kejadian tersebut secara langsung. Ustaz Rizieq menggerayangi tubuh Nunung di rumah gadis yang bulan lalu baru saja menginjak usia 15 tahun itu. Pada saat itu ayah dan ibunya sedang pergi ke kondangan di kampung sebelah.
Menyadari telah terpergok, Ustaz Rizieq marah-marah pada sang saksi dan Nunung. Dia berteriak-teriak sambil keluar rumah Nunung. Katanya dia telah dijebak, dirinya sedang dikriminalisasi oleh pihak-pihak yang tidak menyukainya.
Sejak saat itu pula Ustaz Rizieq meninggalkan kampung. Dia pergi ke kota, mengunjungi saudaranya. Dan berjanji takkan pulang hingga nama baiknya telah dibersihkan kembali.
“Ini jelas-jelas sebuah tindakan kriminalisasi terhadap ulama!” Ujar Jajang, salah satu murid Ustaz Rizieq (meskipun sebetulnya pada kenyataannya hampir seluruh warga kampung adalah murid Ustaz Rizieq).
Tak ingin masalah ini menjadi berlarut-larut. Pak Kades membentuk tim pencari fakta. Hasilnya adalah ternyata kejadian itu nyata. Dan jelas bukan untuk yang pertama kalinya. Selain Nunung, ada beberapa gadis (dan jejaka⸮) yang mengakui bahwa beberapa bagian tubuh pribadi mereka disentuh sebagai bagian dari “pengajaran.”
Namun menurut mereka Ustaz Rizieq hanya menyentuh. Tidak melakukan hal yang lain.
“Fitnah! Itu pasti rekayasa!”
“Semakin tinggi kemuliaan seseorang, tentu makin banyak yang tidak menyukainya.”
“Anak-anak tidak sah dijadikan saksi!”
“Ini rencana sistematis untuk mempidanakan Ustaz Rizieq!”
“Mari kita kumpulkaan seribu tanda tangan. Sebagai bentuk dukungan bahwa Ustaz Rizieq tidak bersalah.”
Para pendukung fanatik Ustaz Rizieq berkoar-koar menyatakan ketidaksetujuannya terhadap rencana pemanggilan Ustaz Rizieq untuk pulang dan memberikan keterangan.
“Saat kampung ini dilanda longsor, siapa orang yang hampir tidak istirahat memberikan tenaga dan pikirannya untuk menolong para korban? Bukankah Ustaz Rizieq?”
“Coba hitung, sudah berapa orang ahli hafalan Quran yang telah dibimbing Ustaz Rizieq?”
“Bukankah para duafa bisa makan karena Ustaz Rizieq begitu amanah dalam mengelola dana ZIS?”
“Siapa yang memberi surat rekomendasi sehingga putera-putera terbaik kita bisa bersekolah di pesantren terhebat di negeri ini?”
“Ada berapa orang yang beliau umrah-kan?”
“Ini bagaikan pepatah, ‘karena nila setitik rusak susu sebelangga.’ Karena satu kejadian kecil sehingga kita melupakan jasa-jasa beliau yang hampir tak terhitung banyaknya.”
Namun orang tua Nunung (dan orang-orang lainnya) hanya ingin penjelasan. Mereka hanya ingin bisa bertemu dengan Ustaz Rizieq, dan mendengar penjelasan langsung dari beliau. Benar atau tidaknya. Ini fitnah atau fakta.
“Jika begitu, datang saja ke kota! Temui beliau di sana. Dan silakan bertanya sepuasnya.”
“Yang jelas, beliau takkan pulang hingga hukum yang adil telah ditegakkan!”
Masalah yang seharusnya dapat mudah diselesaikan, ternyata membuat seisi kampung bergejolak, antara yang fanatik buta dengan orang-orang yang hanya ingin penjelasan langsung. Manusia pernah khilaf, tentu saja. Tak ada manusia satu pun yang luput dari dosa. Dan begitu pula dengan Ustaz Rizieq.
Jangan mencampuradukan antara yang hak dan yang batil. Yang benar adalah benar, sehina apapun orangnya. Dan yang salah adalah salah, sesuci apapun orangnya.
Hingga kini warga kampung masih menunggu Ustaz Rizieq pulang. Dan memberikan keterangan.
Warga kampung ingin percaya bahwa ini fitnah belaka. Namun jika sikap Ustaz Rizieq seperti ini, bagaimana mereka bisa memercayainya?

Iklan

Post Navigation