Kabut Pikiran

Pikiran bagaikan kabut yang menghilang jika tak diabadikan dalam kata

Archive for the month “November, 2015”

Saatnya Cinta Untuk Memilih

hands-clasped

“Aku tuh nyari istri kriterianya simpel aja, asal mau hidup susah tanpa banyak ngeluh.” Ujar Santoso sambil tiduran dengan berbantalkan tangannya. “Kayak kamu, Resti”

Aku tak menanggapi ucapannya karena sedang sibuk menyelesaikan bab terakhir skripsi milikku. Pokoknya aku harus bisa ikut sidang bulan depan!

Santoso memeluk tubuhku dari belakang. “Kalau kamu udah lulus dan dapet kerja, kita nikah yuk?!” bisiknya dengan lembut.

“Aku sayang kamu.” Tambahnya.

“Aku juga sayang kamu.” Jawabku.

Kami berpandangan dan saling melempar senyum. Begitu indahnya dunia jika kita memiliki cinta.

Aku mengenal Santoso sejak SD. Kami satu kampung, hanya beda RT. Aku sudah menyukainya sejak SMP, dan kami mulai menjalin kasih sejak aku kelas dua SMA. Yang artinya hampir 6 tahun kami menjalin kasih.

Kata orang, Santoso adalah tipe berandalan serta urakan. Namun di mataku dia adalah sosok yang gagah dan memiliki prinsip. Dia selalu mengatakan bahwa dirinya adalah manusia yang bebas dan tak mau terikat oleh aturan-aturan konyol yang telah dibuat oleh masyarakat.

Semua orang memvonis Santoso takkan memiliki masa depan. Namun aku tahu bahwa ada satu masa depan yang akan kami bagi bersama: menikah dan bahagia. Karena kami teramat saling mencintai.

*

“Hei, selamat atas wisudanya. Maaf aku gak bisa datang ke sana.” Kalimat pertama Santoso saat aku meneleponnya.

“Gak apa-apa. Aku paham, kok.”

“Yah… Kamu tahu sendiri kan bahwa aku gak disukai oleh keluargamu.” Ada nada kekecewaan terdengar dari Santoso.

“Jangan jadi pikiran.” Aku mencoba menghiburnya. “Mereka cuma belum terbuka pikiran serta hatinya. Nanti juga seiring waktu mereka bakalan luluh dan bisa nerima kamu.”

“Semoga saja…”

“Ngomong-ngomong gimana hari ketiga kerjanya?” Aku mengalihkan pokok pembicaraan.

“Tadi siang aku cabut. Males banget kerja di sana.”

“Kenapa? Tapi kamu gak berbuat yang aneh-aneh, kan? Gak kayak terakhir kali?”

“Nggak. Tenang aja. Aku gak ngerusak barang apapun, gak mukul siapapun, gak ngomong apapun. Aku cuma gak balik lagi setelah jam istirahat. Untuk selamanya.”

“Ooh. Syukur deh.” Ucapku lega. “Ntar aku bantu cari kerjaan yang lain.”

“Ck… kenapa sih orang musti kerja? Coba ada pohon uang. Aku gak perlu repot kayak gini.” Sungutnya.

“Gak apa-apa. rejeki udah ada yang ngatur kok.”

“Iya. Makasih ya, Sayang. Udah mau ngertiin aku.” Ucapnya lembut.

Aku tersenyum. Betapa menyenangkannya memiliki seseorang seperti Santoso. Aku percaya bahwa dengan kekuatan cinta rintangan apapun bisa kita hadapi bersama.

*

“Papa pengen kamu berhenti berhubungan lagi sama anaknya si Wahyu. Si Santoso itu!” Ujar Papa tanpa memandangku. Tangan beliau sibuk memotong daun-daun layu pada tanaman bonsai miliknya.

“Pa, Resti itu udah gede. Resti berhak untuk deket sama siapa aja.” Aku meletakan buku yang sedang kubaca. “Resti bukan anak kecil lagi yang bisa Papa atur-atur. Resti punya pilihan sendiri!”

Sudah berkali-kali kami membahas soal Santoso. Dan hampir dipastikan selalu berakhir dengan sebuah pertengkaran. Pak Wahyu dan Papa pernah jadi rekan bisnis, namun ternyata Pak Wahyu bukanlah rekan bisnis yang baik. Beliau mencurangi Papa dengan menggelapkan dana perusahaan. Perusahaan Papa bangkrut dengan meninggalkan beban hutang yang tak bisa dikatakan sedikit.

Meski tak pernah ada bukti yang cukup untuk menyeret Pak Wahyu ke pengadilan, namun Papa tahu pasti perbuatan Pak Wahyu terhadapnya. Papa memilih untuk membenci Pak Wahyu untuk selama-lamanya. Bahkan setelah ayahnya Santoso itu meninggal sewaktu aku masih kelas 5 SD, dendam Papa tidak berhenti dan malah diturunkan pada Santoso, anaknya Pak Wahyu. Papa tak menyukai Santoso hanya karena dia adalah anak dari Pak Wahyu. Sesuatu yang menurutku sangat tidak adil dan kekanak-kanakan.

“Papa pengen ngenalin kamu sama anaknya salah satu klien bisnis Papa. Minggu depan mereka mau berkunjung ke rumah.” Nada suara Papa tetap tenang, “Kali aja kalian jodoh.”

“Apaan sih, Pa!? Resti gak mau dijodoh-jodohin kayak gini!”

Aku bangkit dari duduk sambil tak lupa menghentakkan kaki seekspresif mungkin. Aku masuk ke dalam rumah dan membanting pintu sekeras mungkin untuk menambah penekanan bahwa aku tak suka dengan tindakan Papa tersebut.

*

Minggu pagi yang cerah. Aku dan Santoso menghabiskan waktu dengan mengunjungi taman kota. Kami tiduran telentang di rumput sambil memandang awan yang sedang berarak.

“Terus aku pengen punya anak yang banyak. Biar rumah kita gak sepi. Biar terdengar langkah kaki-kaki mungil.”

“Berarti rumah kita musti gede dong?” Balasku.

“Pastinya.” Balas Santoso. “Tapi mula-mula kecil aja dulu. Asal cukup buat kita berdua. Selama kamu merintis karir, aku gak keberatan kok tinggal di gubuk. Kita hidup susah dulu juga gak apa-apa.” Santoso menggenggam tanganku erat. Dia tersenyum sangat hangat. Memberikan segala perlindungan yang aku butuhkan.

Papa salah! Semua orang telah berpikir salah mengenai Santoso. Mereka tak tahu dan tak pernah ingin tahu tentang siapa sebenarnya Santoso.

Memang saat ini Santoso saat ini bukanlah siapa-siapa. Belum memiliki pekerjaan tetap, masih tinggal dengan ibunya, sangat bergantung pada kedua kakaknya soal biaya hidup, lebih sering minta traktir daripada mentraktir aku. Namun aku percaya bahwa bersama Santoso, hidupku akan sangat bahagia.

Santoso orang yang sangat baik hati. Sangat pandai menenangkan aku dengan kata-kata penyemangat dan tindakannya yang manis serta romantis. Murah senyum. Tipe lelaki jantan yang tak ragu untuk melepas jaket yang sedang dipakainya saat melihat aku kedinginan karena hujan. Apalagi yang akan dicari oleh seorang wanita selain lelaki yang pandai melindunginya?

*

“Novan” Dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah.

“Resti.” Balasku hanya demi kesopanan.

Sekilas aku meneliti pria di hadapanku. Tinggi sekitar 170 cm. Berkulit coklat cerah. Potongan rambutnya pendek sederhana. Kuduga umurnya 5 tahun di atasku. Sepatu casual, celana jeans, dan kaos warna biru. Tak ada sesuatu yang bisa dikatakan istimewa dari seorang Novan.

“Nah, kalian ngobrol-ngobrolah dulu di sini.” Ucap Papa, “Ada negosiasi bisnis yang harus kami bahas.” Papa dan ayahnya Novan bangkit dari duduk. Mereka berjalan menuju teras belakang. Kulihat Mama dan ibunya Novan sedang di dapur sambil tertawa-tawa khas ibu-ibu.

“Kudengar kamu jadi staf penerjemah?”

“Baru sekitar enam bulan di sana.” Jawabku berusaha terdengar tidak terlalu tertarik untuk mengobrol. “Kamu sendiri kerja di mana?”

“Di Kementerian Keuangan. Jadi akuntan.”

PNS, tipikal menantu ideal Papa, cetusku dalam hati.

Selanjutnya obrolan kami didominasi oleh pertanyaan-pertanyaan Novan yang kujawab seperlunya sambil sesekali balik bertanya demi kesopanan.

Dari obrolan tersebut setidaknya aku mengetahui beberapa hal mengenai Novan. Umur kami terpaut hampir tujuh tahun (sudah tua menurutku). Lulusan perguruan tinggi swasta ternama di Kota Bandung (otaknya lumayan juga). Sudah berkerja di Kemenkeu sekitar enam tahun (cukup lama ternyata). Hobinya traveling, dia dan kawan-kawannya sudah menjelajahi sebagian besar wilayah Indonesia dan mengunjungi beberapa negara (berarti penghasilannya lumayan jika bisa melakukan hal tersebut). Anak sulung dari empat bersaudara (hanya adiknya yang paling kecil ikut ke sini dan sedang bermain dengan keponakanku).

Jika saja aku tak sungguh-sungguh mencintai Santoso, tentunya aku akan mempertimbangkan keberadaan Novan. Namun Santoso ribuan kali lebih baik daripada Novan. Kekasihku itu takkan tergantikan oleh apapun.

*

TRAK

Sesuatu menghantam jendela kamarku di lantai dua pada tengah malam. Takut-takut aku mengintip keluar. Santoso berada di bawah sambil melambaikan tangan. Melalui keremangan lampu jalanan aku melihat sesuatu yang tidak beres. Santoso terluka!

Buru-buru aku turun dan menyambut kekasihku itu.

“Aww.” Santoso meringis saat aku mengusapkan cairan antiseptik pada luka di bawah mulutnya.

“Kenapa kamu bisa kayak gini?” Aku benar-benar khawatir melihat kondisi Santoso yang babak belur.

“Aku dipukuli.” Ujarnya, “sama tiga orang.”

“Kenapa kamu dipukuli? Kamu dirampok?”

“Enggak. Aku cuma telat bayar utang. Mereka gak terima waktu kubilang kalau aku lagi gak megang uang, jadi belum bisa bayar.” Nada suara Santoso sangat memelas.

“Mereka ngelepasin aku setelah puas mukul. Aku dikasih waktu tiga hari buat bayar utangku, plus bunga keterlambatannya.”

“Emang kamu butuh berapa?” Aku mengingat-ingat saldo tabunganku.

“Gak banyak kok. Cuma tiga juta.”

“Kalo segitu aku ada. Tenang aja aku bantu bayar.”

“Makasih ya, Sayang.” Dia mengelus rambutku dengan penuh rasa kasih sayang. “Kamu memang paling ngerti aku dan selalu bisa aku andalkan.”

“Kita kan memang harus saling mendukung.” Balasku sambil tersenyum.

“Oh, betapa pengennya aku agar kita bisa cepet-cepet nikah. Aku pengen ngabisin sisa umurku sama kamu. Selamanya.”

Santoso balas tersenyum. Oh, betapa indahnya dunia ini jika sebagai pasangan kita bisa saling memberi apa yang dibutuhkan oleh pujaan hati kita.

*

“Nikah modal cinta doang? Lapeeer…”  Kata Mbak Widi, rekan kerjaku, sambil mengelus-elus perutnya yang buncit. Buncit dalam arti sebenarnya. Mbak Widi memang sedang hamil 8 bulan lebih, minggu depan dia mulai cuti melahirkan.

“Tapi bukannya Mbak juga waktu nikah sama suami gak punya apa-apa selain cinta? Kalian masih sama-sama merintis karir?”

Mendengar pembelaanku dia malah terkekeh. “Mas Gilangku dan Santoso milikmu itu sangat jauh berbeda, Anak Muda.

“Ada perbedaan besar antara berusaha demi cinta dan cinta tanpa usaha.” Wajah Mbak Widi berubah serius. “Mendengar penuturanmu mengenai Santoso sejak kita pertama kenal, maaf saja jika aku harus bilang bahwa Santoso hanya akan menawarkan masa depan yang penuh beban buat kamu.”

“Jadi maksudnya aku menerima saja pilihan orang tuaku? Novan itu?”

“Materialistis dan realistis itu tipis, namun tetap saja berbeda. Mungkin saja kamu berpikir bahwa Novan bukanlah lelaki idamanmu. Tapi bukankah tujuan wanita menikah itu untuk bahagia? Untuk merasa aman dan nyaman? Baik secara materi maupun psikologi? Bukankah definisi cinta juga demikian? Keamanan serta kenyamanan.

“Dulu Mas Gilang cuma karyawan rendahan dengan gaji minimal. Tapi dia berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan kami, meski yang paling dasar. Kami harus sangat berhemat. Tapi tak sekalipun dia membiarkan aku merasa cemas mengenai keuangan, atau hal apapun.”

Aku hanya bisa diam, tak tahu harus menanggapi kalimat Mbak Widi seperti apa.

“Kamu kan udah kenal Santoso lama. Tahu dia luar dan dalamnya. Merasa yang paling memahami Santoso dibandingkan siapapun di dunia ini.

“Aku tanya satu hal deh: bayangkan kamu menikah dengannya, akan bahagiakah? Sedangkan satu-satunya fondasi adalah sesuatu yang kamu sebut sebagai ‘cinta’.” Mbak Widi mengangkat dua jari tangan kanan dan kirinya membentuk tanda petik.

Aku ingin menyangkal vonis Mbak Widi. Namun jauh di dalam hati aku harus setuju.

*

“Biar aku aja yang bayar.” Dia menahan tanganku yang baru setengah jalan mengeluarkan dompet dari tas.

“Gak apa-apa. Aku udah biasa kok bayar sendiri.”

Novan tersenyum simpul. “Aku bukannya mau bersikap sok keren, tapi dimana kehormatan seorang laki-laki jika tak mampu memenuhi kebutuhan makan wanita yang disukainya? Meski sekarang masih sekedar teman.”

Untuk sesaat aku hanya bisa termangu. Bingung harus mencerna maksud kalimat Novan barusan. Dia berjalan menuju kasir dan menyelesaikan pembayaran.

Tadi tiba-tiba saja Novan sudah menunggu di depan kantorku. Mengajak aku makan malam. Mulanya aku bermaksud untuk menolak ajakannya, tapi Mbak Widi dan teman-teman kantorku yang lainnya memaksa aku untuk ikut dengan Novan.

“Iya, Mbak. Kasian loh si Masnya. Dia udah nunggu lebih dari satu jam.” Pak Ade, satpam, ikut memanas-manasi.

Meski enggan, akhirnya aku duduk juga di jok belakang motor sport milik Novan. Dan di sinilah kami sedang berada.

“Yuk?!” Ajak Novan yang tak hentinya tersenyum.

Oke. Satu poin plus buat Novan, ujarku dalam hati.

Entah kebetulan atau bagaimana, hujan turun tepat ketika kami keluar restoran. Tidak lebat, namun jelas tidak mungkin untuk mengendarai motor kala hujan seperti ini. Aku tersenyum dalam hati, menunggu tindakan Novan dalam situasi seperti ini. Jika Santoso, jelas dia tanpa ragu akan melepas jaket yang sedang dipakainya untuk kemudian aku pakai.

Untuk menambah beban ujian, aku sengaja melingkarkan tangan ke depan dada tanda kedinginan sambil sesekali melihat jam dengan gelisah. Sayangnya Novan tak ada gelagat akan melepas jaketnya dan malah menjulurkan kepalanya seakan mencari sesuatu di tengah jalan.

“TAKSI!!” teriaknya sambil melambaikan tangan.

Taksi yang dipanggilnya berhenti. Novan berlari menuju taksi tersebut. Mereka bercakap-cakap sebentar. Novan kembali menuju tempatku berdiri.

“Pulangnya naik taksi aja.”

“Oh? Oke.” Aku bermaksud untuk menembus hujan menuju taksi.

“Tunggu sebentar!” Aku tak jadi melangkah. Novan berjalan menuju seseorang yang kuduga tukang parkir. Entah apa yang mereka bicarakan, dia berkali-kali menunjuk motor miliknya. Tak berapa lama kemudian Novan kembali dengan wajah sangat lega.

“Yuk!?” Dia membuka jaketnya. Meletakkannya di atas kepalaku. “Jangan sampai rambutmu basah oleh hujan.”

Aku berjalan cepat dibawah lindungan jaket Novan hingga depan pintu taksi.

“Makas-“ Ucapku sambil akan menyodorkan jaket. Aku bermaksud untuk mengucapkan kata perpisahan. Tapi ternyata Novan malah menutup pintu dan berlari menuju sisi lain taksi, membuka pintunya, dan duduk di sebelahku.

“Jalan, Pak!” perintah Novan.

Melihat romanku yang kebingungan, Novan berkata. “Aku harus memastikan kamu pulang dengan selamat.”

“Tapi motornya…?”

“Gak apa-apa. aku udah titipin sama tukang parkir di sana. Nanti aku ambil setelah nganter kamu.”

Aku kehilangan kata-kata. Poin Novan harus kembali bertambah.

*

“Belum dapet kerja lagi?” Tanyaku seakan sambil lalu.

“Kamu tahu sendiri, Yang, aku tuh gak terlalu cocok kerja di tempat orang. Suka gak sesuai sama harapanku. Mintanya macem-macem sedangkan yang aku dapet gak setimpal dengan usahaku.” Jawab Santoso sambil memberi makan burung merpati miliknya.

“Kalo buka usaha sendiri?” Pancingku ingin tahu.

“Usaha apa? Butuh modal. Kadang gak sedikit modal yang diperlukannya. Dan belum tentu usahanya sukses. Bisa aja gagal.”  Dia duduk di sebelahku. “Nggak ah.”

“Trus kalo kita nikah gimana buat menuhin kebutuhan bulanan?”

“Kan ada kamu?” Dia tersenyum lebar. “Udah gak jaman lagi suami kerja, istri di rumah. Bisa aja sekarang perannya berubah. Iya, kan?”

“Oh gitu?” Sungguh aku tak bisa menyembunyikan kekecewaanku atas jawaban Santoso barusan.

“Tapi tenang aja.” Santoso sepertinya menangkap kegelisahanku. “Soal tempat tinggal aku bisa jamin. Kita bisa tetap tinggal di sini kalau Bunda udah gak ada. Nanti aku minta agar rumah ini diwarisin ke aku aja.

“Maksa kalo perlu!” Dia terkekeh seakan sedang menceritakan sebuah lelucon.

Aku menghela napas. Sebuah keputusan harus kuambil.

Aku bangkit dari duduk. Santoso ikut bangkit. Keningnya berkerut saat melihat ekspresiku.

“Aku putusin gak jadi nikah sama kamu.” Aku mengeluarkan kalimat yang seharusnya kuucapkan sejak lama. “Makasih atas segalanya yang udah lalu. Tapi mulai sekarang sebaiknya kita berteman aja.”

“Gara-gara si PNS itu ya!?” Tanya Santoso penuh kecemburuan.

“Sama sekali bukan.” Jawabku mantap. “Tapi gara-gara kamu dan sesuatu yang kamu tawarkan hanya cinta. Yang setelah aku pikir lagi itu bukanlah benar-benar cinta.”

Santoso mencengkram tanganku erat.

“Lepasin!” Aku menghentakkan tangan.

Kami saling memandang. Aku membalikkan badan. Dan mulai melangkah pulang.

Karena ini saatnya cinta untuk memilih.

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

 

Sumber gambar: http://goodmenproject.com/ethics-values/theres-a-new-movement-in-town-men-for-choice-and-the-women-who-love-them-dg/

Iklan

Kenangan Terakhir Papa

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’
#SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Utamakan selamat[5]

“Siapapun ingin melepas kepergian orang yang dikasihinya dalam kondisi terindah dan dalam damai.”

Aku membayangkan Papa akan meninggal dalam tidurnya, dengan rambut yang sudah memutih tanda kebijaksanaan, kerut-kerutan di wajah pancaran keramahan, senyum yang terkulum, dalam dekapan Mama yang penuh cinta. Lalu kami akan melepas Papa dalam keharuan, karena demikian lah takdir Tuhan. Dia Yang Maha Kuasa memberi nyawa, Dia pula yang Maha Berkehendak untuk mencabutnya.  Tak ada satu atom pun di alam semesta ini yang bisa menolak kuasa-Nya.

Ya, kami ingin mendapatkan kenangan yang terbaik untuk selalu dapat diingat seumur hidup.

Namun yang kami inginkan tidaklah sesuai dengan yang kami dapatkan.

Sore yang damai kala itu diganggu oleh seruan Kang Asep, tukang ojek langganan Mama, di depan pagar rumah.

“Bu Haji!!!” Suaranya penuh dengan ketergesaan.

“Ada apa, Kang?” Aku mengalihkan perhatian dari majalah yang sedang kubaca di sela-sela menjaga warung.

“Pak Haji… Pak Haji…” ceracaunya tidak jelas.

“Ada apa dengan Pak Haji?” Balas Mama dari pintu depan. Wajah beliau menyiratkan kegelisahan.

“Pak Haji tabrakan!”

“Innaillahi…” Mama langsung terduduk di teras.

Berlawanan dengan kabar buruk yang dibawa Kang Asep, aku malah tersenyum, “Lagi-lagi” ucapku dalam hati. Ini kejadian yang kesekian kalinya bagi Papa. Dalam setahun ini lebih dari lima kali Papa mengalami kecelakaan. Kebanyakan sih bukan merupakan kejadian yang serius, hanya berkisar pada menabrak tembok, terjatuh ketika belok, atau masuk got.

Papa memang bandel. Berkali-kali aku mengingatkan Papa untuk berhati-hati dalam berkendara. Jangan ngebut, pakai helm, dan pakai kacamata minusnya. Tapi berkali-kali beliau menjawab bahwa dia akan baik-baik saja. Karena segala sesuatu sudah ada yang mengatur.

“Jodoh, bahagia, maupun celaka sudah diatur oleh Allah. Kita jangan pernah takut akan apapun. Hanya takutlah pada Allah. Jika Dia sudah berkehendak, maka jadilah. Buktinya Papa meski sudah beberapa kali jatuh dari motor tetap baik-baik saja. Karena Papa percaya bahwa hanya Allah lah pelindung Papa, dan Dia lah sebaik-baiknya pelindung. Bukan helm maupun kacamata.” Papa selalu berhasil menemukan bahan ceramah yang membuatku tidak bisa berkutik untukku.

Kali ini Papa kecelakaan. Lagi. Mungkin ini saatnya bagiku untuk mendesak Papa untuk benar-benar berhenti mengemudikan motor.

“Ayo kita pergi, Kang.” Kataku sambil menenteng helm. Segera aku duduk di kursi belakang.

“Mama pengen ikut, Risa.” Mama buru-buru mendekati kami.

Dengan wajah yang khawatir bercampur bingung Kang Asep menatapku.

“Akang tunggu aja di sini.” Putusku.

“Tapi, Neng…” Kang Asep terdengar keberatan dengan ide yang aku ajukan.

Aku menyuruh Kang Asep untuk memberikan helmnya pada Mama. Dia bilang bahwa lokasi tabrakannya tak jauh dari pintu gerbang kompleks.

Dan kami pun melaju. Menyongsong sebuah kenyataan yang akan membekas dalam ingatan seumur hidup.

*

Dari kejauhan sudah terlihat kerumunan orang-orang. Lalu lintas mengalami kemacetan karena budaya masyarakat Indonesia yang serba ingin tahu segala sesuatu. Tujuan mereka hanya satu: menonton kecelakaan.

Seperti tak ada kegiatan lain saja, gerutuku dalam hati.

Mama sudah mengeluarkan tangisnya yang terbaik sementara kami mencoba menyeruak kerumunan. Aku cukup yakin bahwa Papa sedang terduduk di trotoar, minum untuk menenangkan diri, dan hanya menderita sedikit lecet-lecet.

“Papa!!!” Jerit Mama histeris sebelum akhirnya ambruk di sampingku.

Sungguh aku tak siap untuk menyaksikan pemandangan di depanku. Lututku seketika mati rasa. Lidah kelu tak sanggup mengolah kata. Otakku menolak untuk memproses data.

Arian, adik lelakiku yang baru berumur 10 tahun sedang menangis dalam pangkuan seseorang. Celana jeansnya robek di bagian lutut, memperlihatkan luka parut cukup parah. Bibirnya sobek dan mengeluarkan darah.

Arian cukup beruntung. Sangat beruntung.

Jauh berbeda dengan Papa. Sungguh sangat berbeda dengan yang dialami oleh Papa.

Peci bulat putih milik Papa kini berubah warna menjadi merah. Begitu pula dengan kemeja biru dan celana katun hitam beliau ternoda oleh tanah serta darah. Sesuatu berwarna putih menyembul dari robekan kain di bagian sikut.

Dan yang lebih membuat aku tak mampu untuk bertahan adalah wajah Papa. Mata beliau membelalak oleh teror. Tatapan ketakutan Papa menyaksikan momen sepersekian detik yang akan menimpanya. Cairan merah kental tak hentinya mengalir dari hidung, mulut, dan entah dari lubang mana lagi milik Papa.

Dan yang paling mengerikan adalah kepala Papa bagaikan batok kelapa yang dijatuhkan dari lantai lima, terdapat celah besar yang diiringi oleh keluarnya darah merah dan sesuatu yang berwarna perpadua kuning dan hijau.

Aku muntah oleh horor. Aku tak sadarkan diri akibat trauma sangat hebat. Trauma yang akan membayangiku seumur hidup.

Sebuah kenangan terakhir mengenai Papa.

*

Katanya kejadian itu terjadi saat Papa hendak belok kanan menuju kompleks. Namun seperti kebiasaan, beliau langsung mengambil lajur paling kanan dari lajur paling kiri. Papa berpendapat bahwa dirinya sudah memasang lampu sein tanda belok kanan, maka seharusnya siapapun harus tahu bahwa itu artinya mau belok kanan. Semendadak apapun lampu itu dinyalakan.

Berkali-kali aku memperingati Papa untuk selalu mengambil ancang-ancang serta aba-aba minimal 20 meter sebelumnya. Selalu ikuti alur sambil sedikit demi sedikit melaju ke lajur kanan. Beri hak pengendara lain untuk mengambil ancang-ancang pula atas tindakan kita. Apakah dia perlu melambatkan lajunya untuk kemudian melewati kita dari kiri.

Tidak seperti yang terjadi pada saat itu. Papa menyalakan lampu sein kanan dari posisinya di lajur paling kiri dekat trotoar, seketika itu pula beliau memaksa menuju lajur kanan karena gerbang kompleks berada 3 meter di depannya. Bagian belakang motor Papa terserimpet oleh motor di belakang. Arian terjatuh seketika itu juga. Namun untungnya kendaraan di belakang dapat mengendalikan lajunya dan Arian terhindar dari tragedi tertabrak atau malah tergilas.

Namun Papa tidak beruntung. Setelah sesaat sanggup mengendalikan kembali motornya, dari arah depan sebuah minibus terlambat untuk bertindak. Lagi-lagi motor Papa terserimpet, kali ini sampai jatuh dan menyeret Papa bermeter-meter jauhnya. Kepala Papa terbentur aspal dengan sangat keras.

Dan kemudian menyisakan pemandangan traumatik tersebut.

*

Hidup Mama tak pernah lagi sama. Begitu pula hidupku. Juga hidup Arian, adik kecilku. Dan mungkin juga hidup semua orang yang mengenal Papa.

Arian selalu muntah jika melihat sesuatu yang berwarna merah, atau sesuatu yang berbentuk bulat, atau juga apapun yang berwujud cairan kental. Bisa dikatakan Arian muntah dalam hal apapun.

Aku hampir tak berani memejamkan mata pada malam hari karena selalu dipastikan akan berakhir dengan mengalami mimpi buruk. Mimpi detik-detik aku menyaksikan kejadian sore itu. Sore ketika Papa menyajikan pemandangan perpisahan terakhirnya.

Mama menderita paling parah. Hampir setiap menit dia melamun, terus menangis sepanjang hari dan malam, tak mampu ataupun mau menerima asupan makanan, seringkali menjerit tak terkendali. Sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya tiga bulan setelah kepergian Papa. Meninggal oleh rasa sakit dan penderitaan.

Kami semua menjadi saksi keegoisan Papa.

Aku yakin bahwa Papa sudah tenang di alam sana. Tak ada yang perlu Papa khawatirkan lagi selain menunggu Masa Penghitungan Amalan. Seperti yang selalu Papa katakan bahwa jodoh, bahagia, maupun celaka adalah kehendak Yang Maha Kuasa, namun Papa sudah bertindak seenaknya dengan memilih untuk meninggalkan kenangan perpisahan paling buruk di dunia.

Papa membiarkan kami menyaksikan pandangan keputusasaan serta kondisi tubuh yang paling mengerikan.

Papa egois! Mau seenaknya sendiri!

Seharusnya dia sadar bahwa keselamatan bukanlah untuk dirinya sendiri melainkan untuk orang-orang yang menyayanginya. Papa seharusnya ingat bahwa jika terjadi sesuatu akan dirinya di jalanan bukan hanya Papa yang menanggung akibatnya, melainkan orang-orang di sekitarnya. Terutama orang-orang yang menyayangi Papa. Seperti kami.

Memang Tuhan yang mengatur umur setiap manusia. Namun bukankah manusia diberi kewenangan untuk menentukan bagaimana caranya mereka mati? Apakah dalam tempat ibadah? Di lokasi judi? Atau di jalanan?

Dan ternyata Papa memilih untuk meninggal di jalanan. Secara tragis pula. Meninggalkan trauma yang sangat mendalam bagi kami semua.

sumber gambar: http://lesyakoe.blogspot.co.id/2011/06/pengetahuan-mengendarai-sepeda-motor.html

Post Navigation