Kabut Pikiran

Pikiran bagaikan kabut yang menghilang jika tak diabadikan dalam kata

Keluarga Dursley : Great War’s Side Story


Cerita ini ditulis untuk memperingati 16 tahun Perang Besar Hogwarts. Sebelum membaca cerita ini ada baiknya para pembaca meluangkan waktu terlebih dahulu membaca seri buku Harry Potter dan/atau Film Harry Potter. Semoga bisa dinikmati.

Imago      YMCK

Disclaimer: Semua karakter dalam Harry Potter adalah milik JK Rowling. Bukan untuk kepentingan komersial. Fanfic ini hanya hiburan semata.
Rated: PG-13 / K-T – B.Indonesia – Drama atau Family

Mr dan Mrs Dursley yang dulu tinggal di Privet Drive Nomor empat pernah bangga menyatakan diri bahwa mereka orang-orang yang normal, untunglah. Mereka tak mengharapkan terlibat dengan sesuatu yang ajaib atau misterius, karena mereka sama sekali tak ingin percaya omong kosong seperti itu.

Mr Dursley dulu adalah direktur Grunnings, perusahaan yang memproduksi bor. Dia masih lelaki besar gemuk yang nyaris tanpa leher, walaupun dulu kumisnya besar sekali. Mrs Dursley kurus berambut pirang, lehernya dua kali panjang leher biasa, karena dulu kegemarannya adalah menjulurkan leher di atas pagar-pagar, mengintip para tetangga. Suami-istri Dursley mempunyai seorang anak laki-laki yang tak bisa dikatakan kecil bernama Dudley dan menurut pendapat mereka di dunia ini tak ada anak lain yang sehebat Dudley.

Keluarga Dursley pernah memiliki segalanya yang mereka inginkan, kini mereka juga punya rahasia besar, dan ketakutan terbesar mereka adalah, kalau ada orang yang mengetahui rahasia ini. Mereka pikir mereka pasti tak tahan kalau sampai ada yang tahu tentang keluarga  Potter. Mrs Potter adalah adik Mrs Dursley. Sudah bertahun-tahun mereka tidak berjumpa (dan memang takkan pernah berjumpa lagi). Mrs Dursley sangat ingin berpura-pura tidak ingin punya adik, karena adiknya dan suaminya yang tidak berguna itu tidak layak sama sekali menjadi kerabat keluarga Dusley. Keluarga Potter memiliki seorang anak laki-laki, yang selama belasan tahun dititipkan kepada mereka, anak laki-laki kurang ajar yang tak pernah kelihatan lagi batang hidungnya sejak malam itu pada musim panas hampir satu tahun yang lalu. Anak laki-laki yang sudah membuat kesulitan besar membelit keluarga Dursley.

Hingga mereka terpaksa harus menerima kenyataan terdampar untuk menyembunyikan diri di sebuah tempat membosankan di sudut terpencil Inggris.

Mr Dursley sengaja membanting pintu mobilnya keras-keras sore itu. Dia berharap dengan begitu akan banyak tetangga yang melongokkan kepala mereka sehingga dirinya punya kesempatan untuk menceritakan betapa buruk harinya. Setiap tahun, setiap tanggal satu Mei – yang dengan bodohnya oleh entah siapa ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional – para buruh selalu melakukan unjuk rasa. Mereka menuntut pengurangan jam kerja tapi upah ingin ditambah, tunjangan kendaraan, tunjangan makan siang, kredit rumah, serta tuntutan-tuntutan kurang ajar lainnya. Seakan-akan itu perusahaan milik leluhur mereka saja.

Selama bertahun-tahun menjadi direktur Grunnings, hanya satu penyelesaian bagi para pengunjuk rasa semacam itu : Pecat saat itu juga, cabut semua tunjangan yang sudah diberikan, tuntut mereka atas ketidakprofesionalan pekerjaannya. Tapi tahun ini berbeda, Vernon Dursley hanyalah seorang manajer logistik, dia tak bisa memecat orang sekehendak hatinya tanpa menimbulkan pertanyaan bagi atasannya. Dia rindu perusahaannya, dia rindu rumahnya, dia rindu kehidupannya yang dulu. Dan pemahaman tentang kenyataan ini kini memperburuk suasana hatinya.

“Potter sialan!” Gerutunya kesal saat mendapati tak satupun tirai jendela tetangga yang tersibak.

Aroma daging asap menyambut ketika dirinya membuka pintu depan. Istrinya, Petunia, sedang menyibukkan diri memasak di dapur sambil sesekali melongokkan kepala ke jendela, berharap ada berita baru yang bisa dia dapatkan di ujung hari. Mr Dursley menghempaskan bokongnya keras-keras ke kursi sambil mendengus keras.

“Kau tahu, Vernon? Beberapa hari ini aku mendapati mereka seharian mendengarkan radio di ambang jendela.” ujar istrinya sambil menunjuk ke lantai dua.

“Tahu apa mereka tentang radio? Memangnya bakalan ada berita tentang kaum mereka di sana?” Mr Dursley mengambil koran dari atas meja makan yang belum sempat dia baca tadi pagi.

Pembunuhan di London, penculikan di Paris, kecelakaan pesawat di India, jembatan ambruk di Mesir, kapal pesiar tenggelam di Korea, puting beliung di Filipina, gempa di Jepang. Mr Dursley bertanya-tanya dunia macam apa yang ditinggalinya saat ini sehingga koran dipenuhi oleh berita sampah semacam ini? Belum lagi kabut dingin yang turun hampir setiap malam, meski musim panas telah menjelang.

“Tadi siang Hestia bertanya apakah kita berlima bisa makan malam bersama seperti yang pernah kita lakukan pada malam natal kemarin.”

“Tentunya kau jawab tidak, kan? Kita akan makan malam duluan. Seperti biasanya. Dan mereka baru boleh menginjak dapur ini setelah kita selesai makan.”

Terpaksa tinggal satu atap dengan salah satu dari kaum mereka saja sudah merupakan sebuah perjuangan besar bagi keluarga Dursley. Vernon Dursley tak tahan membayangkan jika harus lebih dekat lagi dengan orang-orang sejenis mereka. Dia hampir percaya bahwa kaum mereka membawa sejenis penyakit tertentu yang dirinya sama sekali tak ingin tertular.

“Ehm… ya.” Mr Dursley menangkap keraguan dalam nada bicara istrinya. Vernon menyadari bahwa Petunia mulai tidak terlalu membenci si wanita penyihir. “Tentu saja aku katakan itu.”

“Bagus.” Dia melipat korannya. Petunia tersenyum gugup. “Mana Coach Dude?”

“Dia bilang akan melewatkan makan malam. Ada beberapa anggota baru yang perlu dia latih.” Jawab istrinya.

Satu hal positif dalam kepindahan mereka ke tempat ini adalah putera mereka, Dudley, menemukan tempatnya dalam komunitas. Diddykins mereka (yang akhir-akhir ini lebih suka dipanggil Coach Dude), bergabung dalam sebuah sasana tinju dan dalam waktu singkat menjadi salah satu orang berpengaruh di sana. Sudah tiga bulan Dudley menjadi pelatih tinju bagi anak-anak sekolah dasar.

Vernon Dursley baru akan menyuapkan kentang tumbuk ke mulutnya ketika Dedalus Diggle dan Hestia Jones menampakkan diri di ambang pintu dapur.

“Apa yang –“

“Terima kasih sudah mengundang kami makan malam, sir.” Seruan Mr Dursley terpotong oleh suara Dedalus yang melengking. “Suatu kehormatan bisa bergabung dengan salah satu Muggle paling ramah di bumi ini.”

Mr Dudley melotot pada istrinya, yang dibalas dengan tundukan kepala. Hestia menyadari ketidakberesan yang tergantung di udara sehingga buru-buru menambahkan, “mungkin tidak malam ini, Dedalus, kulihat mereka sedang ingin membahas sesuatu tanpa gangguan kita.”

Kedua penyihir yang tak pernah disukai oleh Mr Dursley tersebut buru-buru kembali ke lantai atas. Jika saja bukan karena alasan untuk menjaga keselamatan keluarga Dursley, tentunya Mr Dursley dengan senang hati akan mengusir mereka jauh-jauh hari.

Suami-istri Dursley kemudian makan dalam diam.

*

Malam telah cukup lama menjelang. Mr Dursley sedang menonton berita malam sambil sesekali berkomentar mengenai apa yang sedang disaksikannya tersebut sementara Hestia Jones dan Dedalus Diggle sedang makan entah apa di dapur. Petunia Dursley merajut di sofa panjang, dia tak benar-benar tertarik dengan berita apapun yang bukan mengenai lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

Suara berkeresak dari radio milik Dedalus mengisi udara. Hal tersebut selalu membuat jengkel Mr Dursley.

“Memangnya apa yang bisa mereka harapkan dari radio butut itu? Dari tadi hanya suara ribut yang keluar dari benda.” Gerutunya untuk yang kesekian kali malam itu.

“Apapun, sir, apapun.” Balas Dedalus ceria. “Dan kami mengharapkan tak lebih dari berita baik dari Pantauan Potter ini.”

“Yeah…. Sampaikan salam kemarahanku jika kalian bertemu dengannya.” Vernon Dursley menambah volume televisinya.

“Apa kalian dengar sesuatu tentangnya?”

“PETUNIA!” Geramnya. “Jangan membuat percakapan dengan mereka!”

“Belum, mam. Terakhir yang kami dengar Potter dan kedua sahabatnya membobol salah satu lemari besi di Gringotts.” Jawab Hestia.

“Bank para penyihir?”

“PETUNIA!!!”

“Tidak kurang dan tidak lebih. Para penjaga menutup seluruh akses keluar.”

“Cih, sekarang mereka menjadi perampok bank rupanya?!” ucap Mr Dursley dengan nada semenghina mungkin.

Pembaca berita di televisi sedang mengucapkan kata-kata penutup ketika terdengar sorakan amat keras dari dua orang di dapur.

“Mereka kembali ke Hogwarts!”

“APA YANG –“ Raung Mr Dursley.

Kilat telah menyambar. Diulangi, kilat telah menyambar. Malam ini semua diundang ke Hogwarts. Kita akan bersenang-senang. Kita hapuskan kegelapan. Sekali dan selamanya.”

Radio yang sejak tadi tak berfungsi kini sedang mengulang-ulang kalimat mengenai kilat yang menyambar.

“Apa Harry baik-baik saja?” Petunia tidak bisa menyembunyikan kegusaran dalam kalimatnya.

“Jauh lebih dari baik. Dia akan memimpin kita melakukan perang besar dengan pihak Dia-Yang- Namanya-Tak-Boleh-Disebut.” Dedalus tersenyum amat senang.

Mereka berdua mengeluarkan tongkat sihir dari balik baju.

“Sudah kubilang, tidak boleh ada tongkat sihir di rum-“ Raungan Mr Dursley seketika berhenti kala mendapati bahwa kedua penyihir di hadapannya telah menghilang di udara.

“Harry selamat,” ucap Mrs Dursley lirih. “Dan kini dia akan berperang.”

Vernon Dursley hampir saja yakin bahwa istrinya tersebut sedang menyembunyikan sesuatu saat ini.

 

Sumber Gambar: http://london-tour.conciergedesk.co.uk/sightseeing-tours/sightseeing-tours-treasures.htm

Iklan

Single Post Navigation

2 thoughts on “Keluarga Dursley : Great War’s Side Story

  1. ah, narasi itu, narasi pertama dari seluruh seri Harry Potter.. tapi ditambahin ‘dulu’.. love it, Hinata! 🙂
    wow, mengambil cerita ttg The Dursley, cool! aku sendiri sempet nggak kebayang lho ttg mereka. pas baca ini baru bikin aku mikir, iya jg ya, gimana nasib mereka selama masa kegelapan itu. secara, setelah mereka diungsikan, trus sampe di epilog jg nggak ada sama sekali mention ttg mereka. dan voila, ada fic ini, rasanya seneng bgt bisa tau ttg mereka lagi. walaupun ga jauh beda yaa sebenernya, cuma petunia yg skr lebih ramah.. hihi
    utk tulisan, aku suka bgt cara kamu menarasikan sesuatu. dan beberapa humor jg sarkasme yg kamu taro di narasi, rasanya pas, tanpa terlihat rasis atau aneh. aku kayaknya harus belajar banyak dr kamu nih.. 😀
    EYDnya jg rapi. seneng deh bacanya..
    btw, maaf bgt utk review yg telat bgt ini. but your work already archived on the website. -psst, you can read it again if you want 😉
    and the last, Many Thanks for participating, Hinata!!
    taun depan ikutan lagi yaaa.. *ngarep*

    • Waw… makasih juga udah mampir…*beneran tersipu*
      Maaf juga belom bisa mampir kmana2.. 😀
      Internetnya lagi limited.

      Awalnya sih pengen nyeritain snape yg mengunjungi makamnya Lily buat pamitan. Tapi gak tau kenapa tiba2 kepikiran soal paman and the genk. 😀

      Ntar aku mampir (gak secepat apparate juga sih, level sapu terbang lah)
      Sekali lagi. Makasih udah mampir dan ngasih komentar yg bikin aku senyam-senyum sendiri.

Apa Pendapatmu?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: